Tampilkan postingan dengan label Review. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Review. Tampilkan semua postingan

Selasa, 18 Juli 2023

ASUS ROG PHONE 7, Keren Abis


Bu Wahyu, narasumber diklat inovasi pembelajaran yang kuikuti begitu semangat menyampaikan berbagai pengalamannya.

“Share kegiatan kita saat di kelas. Apapun itu. Jangan pernah takut dibilang pamer. Makanya guru itu wajib memiliki sosial media. Instagram, Tiktok, Youtube. Ikuti perkembangan zaman. Karena apa? Saya sudah merasakan manfaatnya. Saya rutin meng-upload kegiatan sekolah di instagram. Nah, saat mengikuti suatu lomba, ada beberapa tahap, salah satunya verifikasi, yaitu panitia harus berkunjung ke sekolah untuk membuktikan apakah di lapangan memang benar adanya. Karena sekolah saya tidak hanya sekali mengikuti lomba tersebut dan panitia tahu betul saya sering meng-upload kegiatan atau potret di sekolah, tanpa verifikasi langsung ke sekolah, panitia langsung meloloskan sekolah saya ke tahap selanjutnya. Padahal kalau verifikasi, kedatangan tamu, berapa ongkosnya? Nah, inilah keuntungannya. Sekali lagi, jangan takut dibilang pamer karena sering share foto atau video kegiatan kita di sekolah. Malah justru bukti kalau kita itu kerja nyata.”

Aku takjub mendengar cerita beliau. Pikiranku terlempar jauh dari ruangan diklat sekalipun telingaku masih tersadar untuk mendengarkan kisah inspirtif dari kepala SD Negeri Batursari 6, Mranggen, Demak, Jawa Tengah ini.

Saat itu yang kupikirkan adalah guru-guru yang kuikuti akunnya di instagram. Mereka sangat aktif di sosial media tersebut bahkan Tiktok. Terlihat sekali produktif. Tapi, dalam hati, akupun melakukan kok apa yang mereka upload di akunnya. Hanya saja tidak kupublikasikan. Nah, itu lho masalahnya. Jadi hoax kan. Sesekali kegiatan di kelas aku dokumentasikan ke dalam video dan foto kemudian kukirim ke grup whatsapp kelas.

Sebenarnya, faktor penyebabnya sama plek dengan yang disampaikan Bu Wahyu, yaitu takut dibilang pamer. Satu lagi, HP-ku kurang support.

Aku masih setia dengan HP-ku yang sekarang, ASUS Zenfone Max M2. Meskipun sudah pernah ganti LCD sebanyak tiga kali, tapi aku merasa belum nemu yang klik. HP ku ini tahan banting banget, walau LCDnya nggak ya. Entah berapa kali jatuh, kebanting, dan hampir kena air, tapi perfoma mesinnya masih lumayan. ASUS itu memang nggak pernah ngecewain penggunanya.

Jujur, sebagai guru yang pecicilan dan banyak tingkah sepertiku ini punya mindset kalau HP yang paling cocok untukku adalah HP yang khusus dipakai nge-game itu lho. Biar ‘tahan banting’ banget. Mau diberi file dokumen kapan pun sat set bukanya, diisi aplikasi bejibun tetap stay cool, ngedit video pembelajaran dengan durasi panjang tetap lancar, pun dipakai apa saja bisa, tanpa nge-lag.

Hari ini, ASUS ROG Phone 7, HP gaming idaman setiap orang, resmi dilaunching di Indonesia. Kuamati ada beberapa poin keunggulan yang bisa aku share ke kamu biar ketularan ngiler juga, ngiler ingin punya maksudku, ya. Lihat dulu penampakannya seperti ini. Bagaimana, ingin juga, kan? Yuk lah kurincikan keunggulannya berikut ini:

1. Performa Tanpa Kompromi

ASUS ROG Phone 7 mampu memberikan pengalaman gaming yang mulus dan responsif. Tak ada kata salah pencet sehingga permainan menjadi di luar ekspektasi. Hal ini karena ROG Phone 7 telah dilengkapi dengan prosesor Snapdragon® 8 Gen 2 Mobile Platform. Selain itu memiliki RAM LPDDR5X 8533 Mbps hingga 16 GB, dan ROM UFS 4.0 512 GB yang dua kali lebih cepat dari UFS 3.0. Tak kalah kemampuan grafisnya pun didukung dengan 165 Hz Samsung AMOLED display. Wajar bukan kalau kinerjanya sangat baik?

2. Punya Desain Gaming yang Unik

HP Gaming, tentu desain dari HP ini nggak main-main. Unggul di desain bagian belakangnya, HP ini sudah dilengkapi dengan Subwoofer built-in baru di AeroActive Cooler 7, ini itu seperti kipas angin yang bisa membuka dan menutup. Jadi, saat main game nggak perlu khawatir HP bakalan panas, pun debu juga nggak bakal masuk ke dalam HP. 

3. Layar yang Ciamik

ASUS ROG Phone 7 memiliki layar 6,78 inch AMOLED 165 Hz HDR 10+ dengan resolusi 1080 x 2448 pixels yang mampu membuat penggunanya menikmati visual yang halus, responsif, tapi tetap jelas dan lancar. Digerakkan pakai jari berasa sat set sat set banget. Untuk layar kedua atau layar di belakang tentunya bisa dicustom dan memilih animasi sesuka kita. Pun banyak pilihannya.

4. Audio Begitu Memukau

Seri ROG Phone sebelumnya telah menawarkan kualitas audio yang luar biasa, eh ini audionya lebih jedug-jedug banget layaknya lagi nonton film di bioskop. Karena ASUS ROG Phone ini sudah dilengkapi dengan speaker kembar depan 12 x 16 mm dengan volume 50% lebih efektif dari sebelumnya, serta dibantu oleh sub-woofer lima magnet super-linear 13 x 38 mm dalam pendingin AeroActive 7, yang meningkatkan volume bass hingga 77 % untuk suara 2.1 yang tidak ada duanya. Nggak heran kalau main game-nya makin menjiwai.

5. Baterai Tahan Lama

Lagi asyik-asyiknya main game, baru 10 menit pula, eh, ternyata baterai sudah habis? Untuk ASUS ROG Phone 7 mah lewat. Karena HP gaming yang satu ini dilengkapi dengan baterai 6000 mAh. Senangnya lagi, hanya dengan 43 menit, HP ini sudah full 100% dicharge dan bisa lanjut main game lagi deh.

Setelah tahu spesifikasi singkat dari ASUS ROG Phone 7 di atas, memangnya HP ini cocok untuk seorang guru? Lho, kenapa tidak? Karena aku butuh HP yang seperti itu dengan ke-sat-set-an dunia per-guru-an ku yang makin lama makin tidak bisa diduga-duga kapan pekerjaan harus dikerjakan. Aku butuh ASUS ROG Phone 7 ini karena; (1) akselerasi mesinnya yang tiada tanding, (2) audionya yang spektakuler, dan (3) kapasitas baterainya.

Nah, gimana, tertarik juga untuk melirik ROG Phone 7 sebagai teman gaming, kamu? Intip, yuk, untuk harga per unitnya!

ROG Phone 7 Ultimate (16/512GB) Rp 18.999.000

ROG Phone 7 (12/256GB) Rp 13.999.000

ROG Phone 7 (8/256GB) Rp 10.999.000

Saat ini kamu bisa manfaatin dua promo berikut ini agar semakin dapat banyak untung.

1. Early Bird Promo:

Periode tanggal 18 - 31 Juli 2023

Untuk setiap pembelian ROG Phone 7 Series konsumen akan mendapatkan eksklusif merchandise ROG 7 Devicase dan 2 tahun Garansi resmi. (Dengan total hadiah senilai 2 juta rupiah) Promo ini berlaku di semua mitra resmi Asus offline, seperti: Erafone, Urban Republic, ROG Store, Asus Exclusive Store dan Asus Authorized Partners. Serta mitra online, seperti: Eraspace, Tokopedia, Blibi dan Asus Onlinne store.

2. Consumer Launch Promo:

Periode tanggal 18 - 23 Juli 2023 di Atrium Gandaria City Mall

Selain mendapatkan eksklusif merchandise ROG 7 Devilcase dan 2 tahun Garansi resmi, konsumen juga akan mendapatkan tambahan spesial merchandise seperti: ROG exclusive Jacket, MLBB limited edition T-Shirt dan juga 1000 MLBB diamonds. (Dengan total hadiah senilai 3,5 juta rupiah). Promo ini berlaku khusus untuk konsumen yang telah melakukan pre-order dari tanggal 8 - 17 Juli secara offline di Erafone lalu melakukan pickup/pengambilan produk di event venue ataupun untuk konsumen yang akan melakukan pembelian langsung di event venue.


Rabu, 10 November 2021

Memberikan Lingkungan yang Terbaik untuk Anak


"Mbak, kok ternyata orang sini bicaranya begitu, ya. Kasihan anak-anak, kalau sampai meniru kan bahaya." begitu tutur pengasuh bayiku setelah seminggu awal dia bekerja di rumahku.

***

Sudah kodratnya, bukan, kalau anak akan tumbuh sesuai lingkungannya? Kalau lingkungannya baik, insyaallah akan tumbuh menjadi anak yang baik. Sebaliknya, kalau lingkungan kurang baik, ya, anak akan tumbuh menjadi anak yang tidak baik pula.

Hal itu sejalan dengan teori Behavioristik oleh B.F. Skiner bahwa anak akan tumbuh sesuai lingkungannya. Kalau lingkungannya mengajarkan bahasa yang kurang baik, anak akan meniru. Karena anak belum bisa membedakan mana yang baik dan mana yang kurang baik.

Pernah aku mengalami kejadian yang membuatku syok berkaitan dengan pengaruh lingkungan sekitarku.

“Hooo...Ummi goblok (bodoh).” Ucap Kakak saat tidak sabar menungguku  ganti baju sepulang kerja.

Mataku mendelik, dong. Ini anak dapat kata kasar seperti itu dari mana? Refleks aku teriak, “Kakak!”

Anakku yang baru berusia 5 tahun kaget.

“Kakak nggak boleh ngomong pakai kata goblok itu.” Aku lanjut marah-marah.

Karena sudah capek kerja kemudian mendapati anak berkata kasar, ditambah lupa diri malah marah-marah ke anak, endingnya aku jadi menyalahkan diri sendiri.

Seandainya aku ada tidak bekerja.

Seandainya aku bisa menemaninya setiap saat.

Seandainya ..... dan seandai yang lain.

Apakah itu menyelesaikan masalah? Jelas, tidak.

Akhirnya, setelah membacakan dongeng untuk Kakak, aku bertanya, “Kakak, kok tadi ngomong begitu? Ummi sama Abi kan nggak pernah ngomong begitu.”

Kakak pun bercerita dari siapa dia mendengar kata kasar itu. Ya, sudah, aku sebagai orangtua baru bisa menasihati Kakak dan memberitahu kalau itu kurang baik. Selain itu, hanya bisa mbatin, apalah daya karena lingkungan sekitarku bukanlah yang terbaik?

Sebagai orangtua, tentu, aku dan Abi ingin sekali memberikan lingkungan yang terbaik untuk anak-anak kami. Tapi, untuk saat ini ada beberapa hal yang lebih kami prioritaskan sehingga untuk pindah dari lingkungan ini masih menjadi opsi nomor sekian.

Kalau boleh bercerita, lingkungan yang seperti apa to yang kuidamkan?

Paling utama saat ini jelas lingkungan dengan tetangga yang tidak membawa pengaruh negatif kepada anak-anakku. Karena aku bekerja dan mempercayakan anak-anakku kepada pengasuh, kalau lingkungannya tidak bersahabat, wis bar. Amit-amit.

Nah, saat berselancar di sosial media, aku tertarik pada perumahan yang hanya menjual 10 unit hunian di jalan Rancabentang No. 99-83, Kelurahan Cijerah, Kecamatan Bandung Kulon, Kota Bandung, Jawa Barat. Namanya Kenari Kebonkopi Alamasri. Apa istimewanya dari perumahan ini selain hanya menjual 10 unit hunian saja?

  1. Terletak di pusat kota
  2. Desain huniannya ala-ala orang Jepang, minimalis, bersih, dan sirkulasi udaranya juga bagus. Ini pas untuk keluargaku yang tidak suka banyak barang di rumah.
  3. Tetangganya nggak banyak, jelas ini akan lebih memungkinkan lingkungannya kondusif dibandingkan lingkunganku yang sekarang
  4. Bocorannya, perumahan ini itu memang didesain private dan eksklusif lho.
  5. Kalau dilihat-lihat dari fotonya, perumahan ini hijau dan adem banget
  6. Ada taman bermainnya, jogging track, dan taman di tengah perumahan
  7. Di setiap rumah dilengkapi dengan ruang belajar dan bekerja yang nyaman
  8. Ketertiban lingkungan diproteksi one gate system, petugas sekuriti standby selama 24 jam, ada CCTV dan access card system
  9. Mau ke mana-mana dekat, seperti ke stasiun, bandara, mall, rumah sakit, tempat wisata, sampai jarak sekolah anak ke rumah.

Paling tidak itulah alasan kenapa aku tertarik dengan perumahan Kenari Kebonkopi Alamasri di Bandung ini. Kalau saat ini kamu sedang mencari perumahan, bisa nih cari tahu lebih lanjut tentang perumahan ini. 

Selasa, 31 Agustus 2021

Yummy App, Kehadirannya Makin Berarti Pasca Aku Melahirkan


“Bi, kok oseng (tumis) kangkung e aneh gini?”

“Mosok to? (Apa, iya?)”

“Bumbunya apa ini tadi? Pasti asal-asalan deh. Kok nggak bangunin Ummi, sih, tanya dulu gitu lho?! Apa saja, coba sebutin bumbunya?!”

Aku mulai emosi. Kemudian suami menyebutkan nama-nama bumbu yang dipakai.

“Oseng (tumis) kangkung kok pakai kemiri, sih, Biiiiii!? Abi numisnya hangus pula?! Makanya aneh gini. Pahit.”

Meski ngomel dari A sampai Z, mau nggak mau ya masakan suami tetap kumakan. Kunyah tiga kali, kutelan, minum air putih, kunyah lagi, telan, minum lagi. Lha gimana? Aku sudah lapar banget. Sarapan buah seperti nggak bisa ngganjel perutku. Bayiku nenennya kuat pula.

Sampai kapan kudu makan masakan suami yang aneh seperti ini? Mau turun tangan sendiri jahitan perineumku baru sehari. Ah, sudahlah.

***

Cerita di atas adalah secuil drama kehidupan yang kualami sejak Jumat, 6 Agustus 2021, selepas aku melahirkan anak keduaku. Salahku juga sih, karena aku meng-iyakan permintaan suami untuk tidak pakai jasa asisten rumah tangga sekaligus mbak momong dulu selama masa pemulihan pasca melahirkan.

“Iya sih, Bi, sayang juga uangnya. Kan bisa kita pakai untuk keperluan yang lainnya dulu, ya. Ummi juga cutinya masih lama. Pakai jasa mbak momong nanti, sebulan sebelum Ummi berangkat saja.”

Setelah melahirkan dan melewati hari pertama, apa yang terjadi? Aku menyesal dengan keputusan itu.

Benar-benar aku yang salah. Meng-iyakan permintaan suami, tapi aku tidak membekali abi dengan kemampuan masak dengan baik. Selama ini abi selalu membantu pekerjaan rumah, seperti ngepel, nyapu, nyuci, dan jemur baju, tapi urusan masak, no, aku tidak pernah mengajak abi memasak bersama. Karena kalau aku lagi masak, itu ibaratnya jadi me time-ku. Jadi, abi nggak boleh dekat-dekat. Terpenting, nanti saat masakanku sudah siap, abi selalu jadi komentator ulung.


Apa akibat dari keputusanku itu? Selamat untuk diriku sendiri, habis lahiran bukannya makan enak biar hepi selalu, eh, malah, ya begitulah. Nasib, nasib.

Seandainya aku mengenalkan bumbu ini untuk masakan ini, bumbu itu untuk masakan B dari jauh-jauh hari. Hihi, stop berandai-andailah. Percuma. Sudah telat. Mendingan cari cara yang lebih solutif.

Yummy App, Aplikasi Tempatku Mencoba Masakan yang Tak Seperti Biasanya

Sejak bulan syawal lalu bapakku tidak tinggal bersamaku lagi. Karena beliau memutuskan menikah kembali dan ikut dengan istrinya. Semenjak itulah aku makin hobi memasak, mencoba resep masakan ini dan itu.

Pas bapak masih ikut aku, mana bisa masak yang neko-neko? Hihi. Bukan bermaksud jelek, akan tetapi, bapak kan hanya doyan makan dengan sayur yang itu-itu saja. Sayur bening plus penyet tempe atau penyet ikan asap. Kalau nggak gitu tumis tongkol, tumis rebung, dan lodeh terong. Itu mulu menunya.

Ya, nggak papa sih, asal bapak doyan, aku dan abi akan mengalah.

Makanya, saat bapak nggak serumah lagi, cus deh. Aku jadi masak mulu kalau pas di rumah. Me time bangetlah kalau di dapur.

Sebenarnya masakan yang kubuat nggak lepas dari masakan asli Indonesia kok. Malahan masakan yang kumasak itu sering dimasak oleh almarhumah ibuku. Karena dulu ibu yang masak, aku sibuk nguli dan tinggal makan, tahu rasanya seperti apa, kini, aku memanfaatkan kemudahan teknologi yang ada. Apa itu? Nyontek resep masakan dong di Yummy App.

Gara-gara Yummy App, aku bisa memanjakan lidah abi dan Kak Ghifa. Mulai dari masakan ndeso banget seperti sayur jantung pisang sampai yang masakan untuk lebaran ketupat berhasil kueksekusi lho.

Di tegalan, suamiku menanam banyak pohon pisang. Pas musim berbuah, jantung pisangnya kan sayang banget kalau dibuang begitu saja. Dulu, ibu sering banget bikin sayur ini. Selain enak rasanya, kalau masak sayur yang satu ini jadi lebih hemat di kantong.

Ilmu baru yang kudapat dari mengolah sayur ini adalah kalau ngolahnya nggak tepat, kuahnya jadi berwarna gelap banget. Tips nih, saat merebus jantung pisang, masukkan saat airnya sudah mendidih, ya. Jangan dimasukkan saat airnya belum mendidih!

Senangnya lagi, Yummy App tuh bikin aku disanjung sama teman-teman di sekolah. Kenapa? Pas lebaran ketupat kemarin aku kan bawa pecel dan lodeh. Kata teman-temanku, endeus rasanya dan laris manis. Hihi.

Syukur deh, nggak rugi, saat itu lagi hamil masuk trimester 3 bela-belain bangun pagi buat masak.

Kemudian yang paling bikin aku hepi adalah bisa bikin mie ayam sendiri di rumah. Sudah lama banget aku pengen makan mie ayam. Karena lagi pandemi jadi maju mundur dong untuk makan mie ayam di tempat langganan.

Nekad.

Bermodalkan Yummy App dan mie basah yang kubeli dari teman, kuolah deh jadi mie ayam rumahan. Kalau kata suami,

"Mi, kukasih tahu, ini jujur, ya, nggak bohong, Ummi mending pensiun saja dari guru terus buka usaha mie ayam. Ini enak banget. Lebih enak dari mie ayam langganan kita."

Hahaha.

Aku tertawa. Suamiku ini ada-ada saja.

Baby Blues yang Menimpaku dan Yummy App Jadi Andalan Suami Juga

Boleh kan ya kalau aku mau mengucapkan terima kasih banyak ke pembuat Yummy App. Nggak nyangka saja, awalnya tidak sengaja ketemu Yummy App di aplikasi berita kesayanganku IDN Times, eh, sekarang jadi andalan banget untuk teman memasak.

Yummy App ini isinya lengkap banget. Resep masakan dan minuman apapun ada. Mau ala Indonesia, barat, sampai korea, ada semua. Aku merasa nyaman memakai Yummy sebagai tempat mencari resep masakan dan minuman karena ada keterangan berapa langkah dan waktu yang digunakan untuk mengolahnya. Selain itu, setiap resep pun ada gambarnya (beberapa ada juga videonya). Jadi, nggak perlu deh buang-buang kuota internet karena harus menonton videonya dari awal sampai selesai. Kemudian, setiap resep juga ada ratingnya lho, kalau ratingnya bintang lima, ehm, patut dicoba dong pastinya.


Nah, punya Yummy App tapi kok sampai makan nggak enak pasca melahirkan?

Saat itu yang kupikirkan adalah segera sehat dan bisa beraktivitas seperti biasa. Apalagi melihat suami harus mengurusi aku, Kak Ghifa, dan bayiku. Sendiri, tanpa bantuan orangtua atau saudara. Aku merasa kasihan. Tapi, tak ada yang tahu rencana Allah. Aku malah kena baby blues.

Kulansir dari alodokter.com, baby blues merupakan gangguan suasana hati yang dialami oleh ibu setelah melahirkan. Sekitar 80 persen wanita yang baru melahirkan mengalami baby blues. Apa yang kurasakan selama mengalami baby blues? Setiap kali maghrib tiba, suasana hatiku langsung berubah drastis menjadi sedih, merasa sendirian, sepi banget. Nanti ujung-ujungnya aku menangis nggak karuan.

Baby blues yang kualami diperparah dengan tekanan darah yang masih tinggi, setiap malam begadang, dan puting yang lecet. Sesekali aku malas menyusui bayiku. Bahkan aku merasa jengkel banget kalau melihat bayiku menangis. Duh, rasanya nggak karuan. Untungnya aku sadar betul kalau aku kena baby blues, makanya aku harus mengurai apa yang kualami ini agar segera membaik.

Salah satu cara mengatasi baby blues yang paling instan, ya, dengan makan enak. Kalau begadang mau nggak mau harus tetap begadang, kalau ngandalin suami untuk ngurus bayiku setiap malam kan kasihan, suami juga harus bekerja esok harinya. Puting lecet pun nggak bisa kalau bimsalabim langsung sembuh. Ya sudah, nikmati saja. Tapi, urusan makan, harus enak. Makanya, setelah seminggu pertama hanya makan sayur bening (ini resep makanan yang paling suami kuasai, daripada makan tumis kangkung pahit?) mulu, aku baru ingat kalau ada Yummy App di HPku.

Bermodalkan Yummy App di HPku, setiap malam suami selalu ngubek-ngubek aplikasi tersebut untuk mencari resep makanan yang akan dipraktikkan keesokan harinya. Kalau dari pengakuan suami, beliau senang dengan fitur Yummy App yang Masak. Karena hanya dengan memasukkan nama dua bahan makanan yang ada di kulkas, suami sudah bisa mendapatkan rekomendasi beberapa resep masakan apa yang bisa diolah. Cara memasukkan nama bahan-bahannya pun mudah karena bisa disesuaikan dengan huruf alfabet yang ada di samping kanan layar. Di gambar berikut, kumasukkan tahu dan brokoli.

"Kok, ya, nggak dari kemarin-kemarin to, Bi, pakai Yummy App. Kan aku nggak harus makan tumis kangkung pahit atau malah hanya makan sayur bening mulu selama satu minggu."

Memangnya abi bisa masak apa? Hoooo, jangan remehkan suamiku, ya. Meski setiap kali masak minta kukoreksi soal rasanya terlebih dahulu, tapi beliau bisa masak makanan request dari Kak Ghifa, yaitu soto dan ikan nila bakar lho.

Bagiku, abi mau masak soto untuk Kak Ghifa itu jempolan. Tahu sendiri kan kalau buat soto itu ribet banget? Tapi, demi Kak Ghifa yang selalu minta soto setiap kali kangen Mba Uti (almarhumah ibuku) abi jabanin. Terima kasih, ya, Bi, dengan memenuhi permintaan Kakak, aku ikutan ayem. Tak perlu menungguku sampai pulih betul, Kak Ghifa bisa menyalurkan rasa kangennya ke Mbah Uti lewat soto buatan abi.

Nah, nyatanya, berkat Yummy App, bukan hanya aku saja yang hepi bisa makan enak, bukan? Kak Ghifa juga. Alhamdulillah. Kini, setelah 25 hari pasca melahirkan, aku sudah lebih baik. Baby blues menjauh dariku. Bismillah, sehat.

Sekali lagi, terima kasih untuk pembuat Yummy App, karena aplikasi ini sungguh membantuku pulih lebih cepat dan memudahkan abi dalam merawatku. Kini, aku sudah bisa mengambil alih tugas memasak lagi. Setiap hari aku tetap mengandalkan Yummy App untuk teman memasakku. Apalagi saat ini, sekali membuka aplikasi Yummy App per harinya kita mendapatkan kesempatan untuk menang undian berhadiah spatula set, chopper, dan blender. Modalnya hanya jari kok. Cukup ketik Mau, pencet Putar, kemudian Kirim.



Monggo, kamu yang hobi masak atau nggak terlalu jago masak sepertiku, download saja Yummy App, baik pengguna android ataupun apple! Karena di Yummy App, kamu yang mau menulis resep di sana bisa dapat penghasilan lho. Lumayan, bisa buat beli bumbu dapur lagi.

Terakhir, pertengahan bulan September nanti Kak Ghifa ulang tahun ke enam. Aku berdoa agar bisa membuatkan kue ulang tahun sendiri seperti tahun lalu untuknya. Ya, meski tak sebagus kalau pesan di toko kue, paling tidak bermodalkan Yummy App, tahun lalu aku bisa membuat Kak Ghifa hepi dengan kue spidermannya. Insyaallah, tahun ini kebahagiaan Kak Ghifa akan terulang bahkan lebih bahagia lagi. Aamiin.


Yummy App, terima kasih sudah hadir dan melengkapi hari-hariku.

Minggu, 25 April 2021

Sel Kulit Mati di Hidung Rontok dengan Treecos Cosmetics

 

Halo. Hari Minggu ini jadi kesempatanku untuk memasak sesuatu yang sedikit riwil. Sejak pagi tadi aku sudah sibuk di dapur, karena mau bikin botok lamtoro atau botok petai cina. Kubayangkan, nanti pas buka puasa ditemani sayur bening dan botok lamtoro yang pedas, ehm, yaaamiiiiii.

Resep bisa kamu baca di resep botok lamtoro.

Sebenarnya, bisa sih kalau beli botok di tempat bulekku yang selama ramadan ini jualan lauk-pauk di depan gang. Hanya saja kan beda kalau masak sendiri sama beli. Iya, sih, lebih rempong, tapi kan yang dimasak jadinya banyak dan lebih hemat. Bisa buat lauk besok lagi, hihi.

Entahlah, aku memang tidak hobi jajan di luar. Karena bisa nemu menu masakan yang sesuai dengan lidah itu susahnya seperti mencari jodoh untukku.

Sama halnya kalau ngomongin soal produk skincare, makin ke sini aku makin sadar kalau menemukan skincare yang cocok untuk kulitku itu nggak mudah. Karena;

  1. Skincare A cocok untuk kulit kamu, belum tentu cocok juga untukku.
  2. Ada skincare yang cocok banget, tapi harganya nggak cocok dengan kantong.
  3. Ada iklan skincare yang heboh banget, reviewnya bagus, eh, setelah pakai sendiri kok biasa-biasa aja. Nggak ngefek seperti kabar beredar.

Alasan lain masih banyak lagi.

Dulu nih, pertama kali aku kenal skincare waktu SMP. Itupun hanya sebatas cuci muka, pelembab, yang endingnya mengandalkan bedak tabur agar muka kelihatan lebih terang. Seperti itu terus sampai awal kerja.

Semenjak bekerja, sebagai guru SD, bertemu banyak orang, kok mereka mukanya pada bersih-bersih, ya, dilihat tuh enak gitu, di situlah aku mulai ngaca dan sadar. Ya, aku juga harus berubah dalam hal penampilan mukaku.

Rasa ingin 'orang melihatku dengan enak' itu muncul dengan kuat. Dari situlah, dengan gaji yang empat ratus ribu per bulan, kuberkenalan dengan lisptik terlebih dahulu. Jadi, setelah mandi, kini cuci muka, pelembab, bedak, dan lipstik menjadi teman karibku.

Hihihi. Kalau ingat masa-masa itu tuh aku pengen banget ketawa, kenapa? Karena pertama kalinya beli lisptik, aku tuh beli yang warna cokelat, Teman. Saking nggak pedenya. Padahal, tahulah, karena kulitku itu cenderung gelap, bukannya memberikan kesan lebih bercahaya, mukaku malah tampak tua.

Lama-kelamaan aku mulai deh belajar soal warna lisptik dan akhirnya nemu warna yang pas dengan kulitku.

Begini potret awal mengenal lipstik, bandingkan dengan sebelumnya


Itulah sekelumit cerita ke-culu-anku saat pertama kali berkenalan dengan lipstik dan kawan-kawannya. Bagaimana dengan sekarang?

Kesadaranku untuk selalu tampil prima saat di depan anak-anak, atau saat ini sering bersinggungan juga dengan wali murid karena anak-anak BDR (belajar dari rumah), membuatku makin sadar kalau penampilan seorang pelayan masyarakt itu memang penting. Makanya, sampai sekarang pun aku masih bergerilya mencari produk skincare yang memang cocok untuk kulitku. Terutama bisa mengatasi sel kulit mati yang menumpuk di lipatan hidung yang menurutku sudah sangat mengganggu.

Berangkat dari situ, aku cerita dengan salah satu temanku mengenai masalah sel kulit mati yang menumpuk di lipatan hidungku. Ditawarkannya produk dari Treecos Cosmetics berupa facial wash bio oily dan face tonic bio oily khusus untuk mukaku yang cenderung berjerawat dan ada tumpukan sel kulit mati di bagian hidung.

Treecos Cosmetics

adalah produk skincare yang menggunakan bahan alami dan sudah terdaftar di BPOM sehingga skincare yang satu ini tidak akan mengakibatkan kecanduan bagi penggunanya. Treecos Cosmetics memiliki beberapa jenis produk yang dapat digunakan pada jenis-jenis kulit normal dan berminyak. Perlu diperhatikan bahwa produk skincare ini hanya disarankan bagi pria dan wanita yang berusia 18 - 55 tahun.

Kita bisa lihat lebih lanjut ke websitenya di https://treecos.com/. Sebelum membeli produk dari Treecos Cosmetics, sangat disarankan untuk berkonsultasi mengenai keluhan dan keadaan kulit wajah kita agar produk yang kita pakai tepat sasaran dan bisa mengatasi masalah yang kita alami. Konsultasinya di mana? Tuh, di websitenya sudah ada menu konsultasi.

Jangan lupa konsultasi terlebih dahulu, ya! Tenang, kerahasiaan data kita terjaga kok

Bagaimana Kesanku Memakai Produk Treecos Cosmetics?

Treecos Cosmetis ini dikirim dari Sleman, Yogyakarta dengan kemasan yang cantik dan aman sekali. Peratama kali terima dari kurir, kupikir dikemas dengan kertas karton cokelat, ternyata bukan, melainkan plastik tebal dengan buble wrap berlapis di dalamnya. Insyaallah, aman selama perjalanan.

Dua produk yang dikirim sesuai konsultasi dan keadaan kulitku adalah facial wash bio oily dan face tonic bio oily. Bagaimana kemasannya, kandungan di dalamnya, dan cara pemakaiannya akan aku ulas secara singkat di bawah ini kemudian apa respon kulitku akan kutulis juga, ya.

Kumulai dari,

Facial Wash Bio Oily


Isi 100 ml dengan harga Rp 70.000 (harga bisa berubah saat ada promo)

BPOM NA 18201203070

Facial wash ini diformulasikan untuk mencegah timbulnya jerawat, efektif untuk kulit berminyak dan tidak membuat kulit menjadi kering, serta membantu menghaluskan kulit.

Kemasannya berbentuk botol segenggaman tangan orang dewasa, lengkap dengan pump dan tutupnya. Dominan warna putih dan cream. Saat dipencet, keluar cairan bening encer dan baunya lembut. Sekali pakai, kupencet 3 sampai 4 kali.

Kandungan aktifnya, apa saja? Ada Salicylic acid, Tea Tree Oil, dan Alpha Bisabol.

Cara pemakaiannya juga mudah:

  • Basahi wajah dengan air
  • Tuang secukupnya ke telapak tangan
  • Busakan dan usap lembut ke seluruh wajah & leher dengan gerakan melingkar keluar
  • Diamkan selama 1-2 menit
  • Bilas sampai bersih
  • Keringkan dengan handuk; ditepuk perlahan

Face Tonic Bio Oily


Isi 100 ml dengan harga Rp 50.000 (harga bisa berubah saat ada promo)

BPOM NA18201203069

Toner ini diformulasikan khusus untuk membersihkan kulit wajah yang berminyak / berjerawat dari kotoran dan sisa riasan. Menyegarkan kulit dan mencegah timbulnya jerawat sehingga kulit tetap halus, bersih dan terasa segar. (Dapat digunakan setelah cuci muka).

Kemasannya hampir sama dengan facial wash, akan tetapi tutup botolnya berbentuk flip flop. Saat dituangkan di kapas, toner ini memberikan warna cream kekuningan pada kapas. Kalau toner yang biasa kupakai saat dituang di kapas tak berwarna, hanya ada kesan basah saja. Melihat kesan dari produk ini ya terasa beda saja.

Kandungan aktifnya, apa saja? Ada Bio Sulfur dan Lactic Acid.

Cara pemakaiannya juga mudah:

  • Setelah memakai facial wash, tuang toner secukupnya di kapas pembersih
  • Tepuk perlahan dan merata pada wajah. Hindari kelopak mata
  • Jangan dibilas
  • Untuk kompres jerawat: tuang secukupnya di kapas pembersih ( kapas nya tipis saja ), tempelkan pada kulit yang berjerawat

Setelah 14 Hari Pemakaian...


Ehm, cukup bikin WOW.

Karena apa?

Pertama kali pakai facial washnya nyaman, kemudian pakai tonernya, ulala, cekit-cekit banget di area hidung yang ada tumpukan kulit matinya. Rasa cekit-cekit itu bertahan ada kalau 10 menit. Tentu itu nggak nyaman. Setelah kukonsultasikan, memang efeknya seperti itu. Itu tandanya toner itu bekerja dengan optimal.

Sebenarnya aku pernah punya pengalaman memakai toner dengan rasa seperti itu. Ku-stop karena nggak nyaman banget. Setiap kali dipakai, warna kulit bagian hidungku itu jadi merah banget. Seperti luka yang menganga gitu. Tapi, pas pakai toner dari Treecos ini nggak ada kesan warna merah itu. Cekit-cekitnya, ya, 10 menit tadi saja, setelah 10 menit aman-aman saja.

Kemudian, yang bikin aku melongo, pas hari ketiga, malam hari, seperti biasa kubersihkan sisa-sisa makeup sebelum tidur. Pas pakai tonernya, loh, di bagian hidungku tuh seperti ada yang pada rontok. Aku berhenti membersihkan dan kupastikan dengan cara bercermin. Eh, kulit mati yang pada bertumpuk itu beneran rontok lho, Teman. Awalnya kan seperti daging pada tumbuh nggak jelas gitu, ini lebih halus lho. Nyenengin banget.

Tunggu dulu, setelah selesai kubersihkan, bagian hidung tadi kan kukompres kapas yang ada tonernya. Kemudian pas mau mapan tidur, duh duh duh, rasanya gatal banget, Teman. Gatal di bagian hidung doang. Pengen garuk-garuk tembok beneran lho. Aku sampai gemes banget.


Lagi-lagi, aku tanya dong, konsultasi lebih lanjut, ternyata memang itu tadi yang rontok kemungkinan besar sel kulit mati yang menumpuk. Rasa gatal tersebut muncul karena kulit wajahku sedang mengalami perbaikan. Aku kan jadi ingat, iya, ya, kalau punya luka dulu pas kecil kan gitu, kalau mau sembuh malah rasanya gatal banget. Aku tentu hepi dong.

Saranku nih ya, kalau misalnya kamu tertarik sama produk perawatan dari Treecos Cosmetics ini jangan asal beli saja, ya. Konsultasikan terlebih dahulu. Kan enak to, wong ya sudah dimudahkan dengan menu konsultasi gitu. Biar hasilnya pun makin jos markojos tepat sasaran.

Insyaallah, setelah lihat pemakaian selama dua minggu ini yang bikin aku senyum-senyum, bisa lanjut beli lagi nih kalau facial wash dan tonerku habis. Kulihat lagi ada diskon juga di bulan April ini. Kemudian juga kalau beli paketan harganya lebih miring. Wah, siapa yang mau nolak. Paket untuk muka berjerawat harus kuangkut segera.

Kamu kalau mau lihat-lihat produk dan harga dari produk Treecos bisa langsung  lihat langsung ke web Treecos Cosmetics, ya.

Minggu, 07 Februari 2021

Pengalaman Memakai Rangkaian Body Care Scarlett Whitening yang Viral Banget


Kotak cokelat berisi 3 jenis produk body care Scarlett Whitening itu kuterima hari Senin pagi. Tidak langsung kubuka karena aku masih sibuk dengan urusan dapur. Apalagi siang nanti harus cus rombongan dengan keluarga besar ke Jepara, ada kondangan.

"Duh, buru-buru malah baru ingat kalau body lotionku habis." Gerutuku.

Kemudian aku ingat kalau kotak cokelat tadi kan ada body lotionnya. Kubuka, buang bubble wrapnya, kemudian mencari mana yang body lotion.


Awalnya kesulitan bukanya. Oh, ternyata ada lock unlocknya pula. Saat kupencet, teksturnya nggak encer, setelah di kulit juga nggak lengket. Wanginya enak.

Pergi deh kondangan.

Berangkat habis dzuhur, mau maghrib baru sampai rumah. Pas mau wudhu, eh, kok wangi body lotion tadi masih ada, ya. Padahal tadi juga sudah wudhu untuk salat ashar.

Aku penasaran. Sembari leyeh-leyeh di kamar, kuuprek semua produk body care dari Scarlett Whitening tadi.

Kamu sudah pakai produk body care dari Scarlett Whitening, belum? Itu tuh yang lagi viral banget. Aku nih kepincut sama produk ini karena keseringan lihat iklannya di instagram, kemudian sering ada promo di online shop kesayanganku. Ya, sudah, angkut.

Nah, biar nggak penasaran, aku akan bikin reviewnya di sini, ya. Aku berharap kamu juga kepincut. Review ini kubuat setelah pemakaian selama satu bulan lebih lho. Review kumulai dari body scrub, shower scrub, dan body lotion yang sudah duluan kuceritakan secara singkat di atas. Cekidot dan nggak pakai lama lagi. Yuk, dibaca sampai tuntas!

Scarlett Whiteng Body Scrub Romansa With Glutathione Vitamin E

BPOM NA18190705488

Untuk body scrub, aku baru nyobain yang romansa, ada juga yang pomegrante, ya. Bagaimana reviewku untuk yang romansa?

Pertama kali buka, sama sih dengan body scrub yang lain. Lulur ini warnanya putih bersih, tentu ada butiran scrubnya. Hanya saja, pas diaplikasikan ke kulit, teksturnya seperti body lotion yang diberi scrub. Kan biasanya lulur teksturnya kering dan kasar, ya. Ini nggak kayak gitu.

Saat digosok secara perlahan, eh, scrubnya nggak nyakitin lho. Biasanya kan kalau mau bersih, harus mau sakit dulu biar dakinya keangkat. Produk ini tidak.

Kemudian pas mau dibilas, kena air, kulit langsung terasa halus. Dakiku yang ada di lipatan lengan kabur, kulit jadi terasa bersih, halus banget, dan tentunya wangi lembut. Menurutku dalam sekali pakai pun kulitku memang lebih tampak putih dari sebelumnya. 

Untuk kemasan, tube seperti body scrub yang lain, gambar bunga-bunganya lucu, dan tutupnya diulir jadi nggak mudah terbuka dan kecampur sama air. Di kemasannya ada hologram bertuliskan Scarlett, kemudian ada logo halalnya juga.

Untuk info ingredientsnya berikut ini, ya:

Aqua Demineralista, Polyethylene, Cetearyl Alcohol, Cetyl Alcohol, Mineral Oil, Glycol Distearate, Propane 123 Triyl Trinitrate, Propane Diol, Fragrance (Parfum) Component and Finished Fragrances, Glutathione, Dmdmhydanton, Trisopropanolamine, Acrylates C10 30 ALKYL Acrylate Crosspolymer, Glass Bead Vit E.


Aku nggak ada tips khusus untuk pemakaian body scrub ini. Ya, seperti biasa;

  1. Pas kulit masih kering, langsung deh aplikasikan body scrub ke tangan, kaki, leher, dan anggota badan lainnya. Tunggu agak kering.
  2. Setelah kering, kira-kira 3 menit, baru deh dibersihkan dulu scrubnya, baru deh dibilas sambil digosok-gosok perlahan.

Yang perlu digaris bawahi dari body scrub ini adalah scrubnya nggak nyakitin, wanginya lembut, dan sekali pakaipun sudah kelihatan kulit bersih. Kalau mau rutin memakainya seminggu dua kali, kulit bisa lebih bersih dibandingkan kalau kamu nggak pakai body scrub ini. Kuncinya, jangan malas luluran kalau mau hasilnya maksimal.

Scarlett Whitening Shower Scrub Pomegrante 300 ml

BPOM NA18180701928

Sabun mandi cair ini jadi salah satu produk dari Scarlett Whitening yang paling cepat habis kupakai. Padahal aku sehari mandi juga dua kali. Cuma, kalau mandi tuh bawaannya lihat sabun ini hepi banget. Warnanya ungu kesukaanku, terus lihat butiran-butiran berwarna biru dan merah yang melengkapi tuh lucu. Butiran ini digadang-gadang bisa memaksimalkan usaha kita untuk membersihkan tubuh lho.

Kalau pas mandi, inginku tuang lagi, lagi, dan lagi. Apalagi teksturnya yang memang nggak terlalu kental. Berhasil keblabasan mulu deh kalau nuang.

Tapi, begini, apa mungkin karena aku pakai shower puff (anakku sering nyebutnya usek-usek), ya, jadi butirannya nggak terasa di kulitku? Soal busa, lumayan, bukan termasuk yang berbusa-busa, tapi nggak sedikit juga busanya. Wanginya? Menurutku biasa saja. Lebih wangi lulurnya dibandingkan sabun cair ini.

Setelah mandi, apa yang kurasakan? Aku pernah pakai sabun mandi cair yang kesan habis mandi tuh licin banget kulitku, ada yang lengket seperti nggak bersih saat kubilas, ada yang keset banget sampai kulit rasanya ketat. Ada juga yang biasa-biasa saja tapi wanginya nampol banget. Nah, produk yang kemasannya kayak botol minuman dengan tutup flip flop ini kesannya enak saja. Pas. Nggak keset tapi nggak licin juga. Kalau pas lagi bepergian, bawa shower scrub ini wajib deh. Soalnya gampang dibawa ke mana-mana.



Untuk info ingredientsnya berikut ini, ya:
Aqua, Sodium Laureth-2 Sulfate, Acrylates/Steareth-2-Methacrylate Copolymer, Lauryl Betaine, Coconut Fatty Acid Diethanolamide, Fragrance (Parfume) Component and Finished Fragrances, Sodium Lauryl Sulfate, Cocamidopropyl BetaineAmmonium Salt, Collagen, Pomegranate fruit peel extract octenylsuccinate, Glutathione, Polyethylene, Dmdm Hydantoin, Glass beads Vit E, EDTA, Citric acid.

Oiya, hampir saja kelupaan, untuk shower scrubnya ini ada varian lain ya, yaitu Mango dan Cucumber. Aku penasaran sama yang Mango, makanya ini lagi nungguin yang Mango datang. 

Scarlett Whitening Body Lotion Charming 300 ml

BPOM NA 18190123882

Ada nggak sih yang pakai baju menutup aurat terus jadi malas pakai body lotion? Kadang-kadang aku kayak gitu. Apalagi kalau pas buru-buru berangkat kerja. Keburu pencet finger print jadi bawaannya pengen cepat sampai sekolah. Tapi, sejak kenal body lotion ini kebiasaan jelekku itu sudah nggak berlaku lagi. Soalnya, body lotion ini selalu ada di tasku. Botolnya kan hampir sama kayak shower scrubnya, tapi tutupnya ini ada pengaman dan bentuknya kayak pompa gitu. Jadi, aku bawa di tasku nggak makan tempat plus nggak takut tumpah.

Pastikan di kemasan ada hologramnya

Setiap kali sampai sekolah yang jaraknya hanya selemparan kolor, kelar finger, terus melipir ke meja kerjaku yang letaknya di pojokan, cus pakai body lotion ini. Ya, walau nggak bersua langsung sama anak-anak, tampil bersih dan wangi kan harus to. Mosok kumpul sama teman sejawat bau terasi?

Oiya, body lotion ini tuh wangi banget menurutku. Tahan lama pula, walau dipakai wudhu salat dhuha dan dzuhur baunya masih ada. Apakah ini yang membuat body lotion dari Scarleet Whitening begitu viral di luar sana? Baunya mirip parfum Baccarat Rouge 540 Eau De yang harganya jutaan rupiah sih.

Selain itu, menurutku yang bikin viral tuh ya, body lotion ini memang ngasih hasil yang maksimal tapi bukan abal-abal. Ada kan body lotion yang before after pemakaian perubahan warna kulit jadi lebay banget. Nah, kalau aku pakai body lotion ini tuh memang ada bedanya, tapi nggak yang sampai mencolok banget. Terus paling nyaman pakai ini karena teksturnya keset di kulitku, nggak yang encer gitu, cepat meresap. Terus bulu-bulu kakiku nggak makin panjang. Ini penting banget. Ada kan body lotion yang malah manjangin bulu kaki? Yang kayak gitu bukannya bikin hepi malah nyebelin. Kamu harus cobain body lotion dari Scarlett Whitening ini biar nggak penasaran.





Untuk body lotion ini ada tiga varian, yaitu charming, romansa, dan fantasia. Kalau yang romansa baunya seperti lulur yang kuceritakan di atas, ya, wanginya lembut. Kalau yang fantasia aku belum pernah nyobain. Kalau kamu sudah nyobain bisa dong ceritakan di kolom komentar.

Untuk info ingredientsnya berikut ini, ya:
Aqua Demineralisata, Cetearyl Alcohol, Cetyl Alcohol, Mineral Oil, Propane 1 2 3 triyl trinitrate, Fragrance (Parfume) Component and Finished Fragrances, Propanediol, Kojic acid, Niacinamide, Titanium Dioxide, Glutathione, Dmdm Hydantoin, Triisopropanolamine, Glass Beads Vit E, Acrylates C10 30 Alkyl Acrylate Crosspolymer, CI 60725.


Semua rangkaian body care dari Scarlett Whitening yang aku sebutkan di atas itu mengandung GLUTATHIONE dan VIT E, ya Teman-teman. Gunanya untuk mencerahkan, melembabkan, dan menutrisi kulit kita. Selain itu, tak kalah penting, produk ini not tested on animals.

Pesanku nih misal kamu beli produk dari Scarlett Whitening, belilah di official storenya saja atau langsung lewat DM sosial media Scarlett Whitening. Karena aku sendiri pernah lihat di marketplace yang jual produk ini tapi dalam kemasan kecil, maksudku yang dibagi-bagi di wadah sendiri agar harganya lebih murah. Hati-hati kalau kena penipuan. Toh, semua produk yang aku ceritakan di atas harganya cukup terjangkau kalau melihat manfaat yang kita dapat, yaitu Rp 75.000. Itupun sering ada promo lho. 

Kamu bisa pilih salah satu nih mau order via apa,
WhatsApp di 087700163000).
Line (@scarlett_whitening)
DM instagram @scarlett_whitening
Ataupun shopee (Scarlett_whitening)

Oiya, sebelum kututup nih reviewku, ada tips untuk kamu yang takut kena tipu produk abal-abal, kamu bisa cek produk Scarlett Whitenging yang kamu beli itu di websitenya langsung. Caranya begini.
  1. Buka website https://scarlettwhitening.com/

  2. Di pojok kanan, cari menu Verifikasi. Klik, masukkan data dan kode yang ada di hologram kemasan produk Scarlett Whitening yang kamu miliki

  3. Lihat hasilnya. Kemudian cocokkan kembali nomor yang tampil. Kalau sama berarti produk kamu nggak abal-abal.
Bagaimana? Nggak ragu lagi dapat produk yang asli kan?

Senin, 25 Januari 2021

Review Kabel USB Merek Anker Harga 35 Ribu

 

Serumah, tapi kabel charger yang masih bisa dipakai secara waras hanya satu. Bisa membayangkan bagaimana aku, abi, dan bapakku bergantian memakainya? Lebih tepatnya bukan bergantian sih, tapi keroyokan. Siapa cepat dia dapat.

Ada banyak kabel USB yang kubeli di konter dekat rumah. Harganya kalau nggak salah tuh sepuluh ribu per biji. Aku beli dua. Tapi, ya, itu tadi, ternyata, kalau dipakai nge-charge tuh nggak penuh-penuh. Sering banget kalau nggak sengaja kesenggol, bukannya nambah, eh, malah berkurang tuh persentase baterai HP kami.

Menyebalkan.

Mau beli lagi di konter dekat rumah, cari yang harganya lebih mahalan dikit, tapi takut kalau abal-abal lagi. Yo wis, akhirnya aku coba nyari di marketplace kesayanganku, JD.ID.

Nemu tuh merek ANKER, harga aslinya (entah asli atau palsu) Rp 119.000. Tapi, untuk warna tertentu ada promo jadi 35 ribu saja. Aku baca-baca review dari pembelinya kok bagus, akhirnya checkout untuk 2 biji kabel USB ini.

Kamis order, Sabtu sore sampai rumah. Langsung kubuka dong, ya. Kesannya;

  1. Ada box-nya nih, meyakinkan. Soalnya pas beli di konter, kabelnya telanjang, alias nggak pakai kardus.
  2. Garansinya 18 bulan, tapi kok nggak ada buku garansinya?
  3. Warna merah yang kupilih ngejreng banget, tapi bagus. Karena niat kupilih dari awal biar kalau nyari mudah. Warnanya kan mencolok banget.
  4. Diameter kabel USB lebih besar dari kabel USB bawaan pabrik milik HPku.
  5. Diameter lebih besar tapi tetap lentur
  6. Terdapat plester, jadi bisa dilipat setiap kali habis dipakai
Nah, setelah dipakai untuk nge-charge, kabel USB Anker ini peformanya seperti apa?

Cepet banget.

Awalnya, pukul 06.00 bateraiku tinggal 12%, kucolokkan. Pukul 07.38 sudah penuh. Biasanya kalau pakai chargerku, baru keisi 50%. Ah, senangnya. Aku nggak salah pilih. Cocoklah, ya, dnegan harga 35 ribu. Cocok banget malah.

Iseng-iseng aku ngecek harga juga di Shopee. Eh, lebih murah, RP 27 ribu. Tapi, itu belum termasuk ongkir. Kalau sampai ke rumahku, total dengan ongkir, harga satuannya mencapak 50 ribu. Beda kalau di JD.ID, kalau beli 1, aku kena ongkir 9 ribu. Karena kalau belanja minimal 36 ribu gratis ongkir, makanya aku beli dua saja sekalian. Biar nggak berebutan dengan anggota keluarga yang lain.

Terakhir, aku puas dengan hasil belanjaanku kali ini. Kalau saat ini kabel USB kamu lagi eror juga, bisa lho pilih kabel USB merek ANKER ini. Bocoran di detail produknya, kabel USB ini tidak hanya bisa dipakai untuk nge-charge HP (bisa berbaga merek), tablet, kamera, MP3 player, hard drives, pun juga bisa.

Kamu, sudah berapa kali ganti kabel USB? 

Minggu, 29 Maret 2020

Mampukah Aku Menjadi Sang Bintang?




Pernahkah mendengar atau membaca kalimat tersebut?

Pertama kali aku mendengar kalimat tersebut saat aku masih duduk di bangku kuliah, tepatnya sehari setelah proposalku untuk ikut program mengajar di pedalaman ditolak oleh ibu. 
"Tidak perlu jauh-jauh meninggalkan bapak dan ibu. Kalau mau mengabdi, di lingkungan kita juga banyak yang butuh guru." kurang lebih begitu kata ibuku.
Yaah, tahu sendiri lah, jiwa idealisme anak kuliahan kayak apa, menggebu-gebu. Ditolak mentah-mentah sama ibu, kemudian pas di kampus mendapat siraman kalbu bak air es di tengah gurun sahara, hooo~ langsung deh ya, nggak jadi nglokro semangatku.

Akhirnya, sejak saat itu aku berjanji, setelah lulus kuliah akan menjadi guru SD yang sebenar-benarnya. Nggak mau kalau hanya jadi guru yang biasa-biasa saja. Ya, di mana saja aku bisa mengabdikan diriku. Pokoke kudu maksimal.

Bukan kebetulan, Allah mengirimku menjadi guru honorer ke SD negeri di desa kecil yang jauh dari kecamatan. Waktu tempuh dari rumahku sekitar 30 menit, itupun motorku harus melaju dengan kecepatan 60 km/jam.

Bagaimanakah perjalananku menjadi guru honorer? Apakah aku tetap bertahan? Mudahkah aku melewati segala babak kehidupanku? Batu besar apa saja yang menyandung kaki njeberku? Dipertemukan dengan siapa saja aku selama mengabdi menjadi guru?

Bismillah, kumulai cerita perjuanganku untuk menjadi guru PNS. Semoga ada secuil hikmah yang bisa kamu ambil dari apa yang kulalui.

Aku ingin menjadi Sang Bintang-guru PNS, bukan hanya mutiara-guru honorer- yang terpendam di bawah lautan sana.


Lima tahun berjuang di SD negeri pelosok, akhirnya aku memilih pindah. Berat, rasanya berat banget. Tapi, kapan lagi ada tawaran yang lebih baik dan lebih dekat dengan rumahku?

Sudah saatnya aku juga memikirkan kebahagiaan anakku. Dia sudah mulai masuk sekolah. Kalau setiap hari ikut aku, kasihan. Ini semua terlalu melelahkan.

Entah kenapa, aku merasa akan ada sesuatu yang terjadi pada ibuku, yang saat itu sedang berjuang terapi di Semarang. Nanti akan aku ceritakan di postingan ini juga apa yang terjadi pada ibuku.

Jujur, ya.

Sebenarnya, aku sudah nyaman, bahkan sangat nyaman dengan lingkungan sekolah dan warga sekitar.

Padahal kepala sekolah sangat mempercayaiku untuk memegang beberapa program akademik.

Sekali lagi aku ingin bilang, ini berat. Sangat berat.

Tahukah kamu keputusanku untuk pindah banyak sekali membawa luka?

Banyak hal yang harus kutinggalkan.

Oh, ternyata begini, ya, rasanya, melipir saat karier sedang bagus-bagusnya.

Aku harus kehilangan karierku yang sudah kubangun selama lima tahun.

Aku harus berpisah dengan anak didikku.

Aku harus kehilangan honor daerahku.

Aku harus kehilangan kesempatan menjadi tim pembuat soal tingkat kabupaten.

Aku harus melewatkan kesempatan mendapat NUPTK.


Aku harus mengikhlaskan berkas pengajuan PPGku ditangguhkan oleh dinas karena pindah ke kabupaten lain.

Sedihnya lagi, kabar kepindahanku dibarengi dengan rumor kalau aku out karena kalah saing dengan guru CPNS baru di sekolahku.

Ya Allah. Sedihku makin bertumpuk-tumpuk. Aku seperti seorang tertuduh. Aku berpamitan dengan membawa duka, bukan suka cita. Aku masih ingat betul, kuterisak-isak saat pamit di rapat dinas sekolah.

Terlebih lagi, setiap kali ada teman yang bertanya kabarku di sekolah baru, kemudian berujar, "Kok sayang banget sih, Mbak, malah pindah."

Duh, rasanya ingin kubanting HPku. Aku merasa dunia ini tak berpihak kepadaku.

Apalagi saat ibu petugas bagian kepegawaian tiba-tiba menelepon di bulan Agustus tahun lalu, "Nok, kamu kalau mau pindah lagi ke SD yang lama, kami masih menerima lho. Sayang banget, kariermu lagi bagus-bagusnya. Sini juga merasa kehilangan kamu."

Aku hanya bisa menahan tangisku di depan kelas.

Belum berakhir di situ saja. Aku pindah ke sekolah baru ini malah dapat amukan dari kepala UPTD. Katanya aku tidak tahu bersyukur bisa lolos PPG malah dilepas. Kemudian data dapodikku tidak bisa dilanjutkan ke SD yang sekarang.

Ya Allah, begini banget jalan hidupku. Kelunta-lunta, itu yang kurasa.

Nggak, lah. Nggak. Aku harus kuat. Seperti pesan ibuku.

Pesan WA dari ibuku

Ya, aku harus siap menghadapi segala konsekuensi yang ada. Aku mantab harus pindah, walau terasa sangat berat.

Aku yakin lambat laun karierku di sini juga bersinar. Butuh waktu. Tapi, kembali lagi, bukankah aku menjadi guru agar hidupku lebih bermanfaat? Kenapa aku kini justru gila pengakuan dari orang lain?

Kukemanakan Allah? Harusnya aku tak takut karierku akan meredup jika aku bekerja karena Allah. Bukan karena orang lain, bukan?



Selamat datang sekolah baru. Sekolah di pusat kecamatan. Sekolah dengan jumlah murid bejibun plus karakter yang beragam.

Letaknya hanya 10 menit dari rumahku dengan jalan kaki. Dekat sekali. Inilah impian ibuku.

"Bapak Ibu biar ikut senang dan bangga tahu prestasimu di sini." Kata ibuku saat kami berbincang-bincang menjelang pengambilan keputusanku untuk pindah.

Orangtua mana yang tak ingin melihat anaknya bahagia? Tapi, anak mana yang tak ingin membahagiakan kedua orangtuanya? Apalagi aku ini anak tunggal.

Kuyakin, bapak ibuku bangga dan sangat bahagia aku pindah di sekolah baru ini.

Aku menghadirkan Kak Slam, pendongeng dari Semarang untuk mengisi kegiatan di sekolahku. Kegiatan ini bekerjasama dengan PAUD dan TK se-lingkunganku.

"Itu lho Bu Ika, anaknya Pak Supar, pinter, buat acara ini itu di sekolah, bla bla bla...."

"Anaknya, Mbak Har, pindah di SD sini. Kemarin pas acara agustusan re ngem-si barang. Sekolah ramai banget."

Di sekolah lama bagian MC, di sekolah baru jangan mau kalah dong.

Kalimat-kalimat itu kan simpel. Tapi, binar-binar kebahagiaan bapak dan ibu tampak begitu nyata. Kalau aku di sekolah lama, bisa sampai mengirim anak-anak ke kabupaten, kemudian juara, mana ada tetangga yang komentar demikian? Biasanya aku hanya cerita seadanya saja.

Beda. Kebahagiaan bapak ibuku kala aku pindah sangat berbeda.

Kenapa tak dari dulu, Ya Allah?

Meskipun aku harus kehilangan banyak hal dan kesempatan, tapi melihat bapak dan ibu lebih bahagia kok terasa sangat impas, terbayar semua dan tak ternilai harganya.

Terima kasih untuk keluarga besar SDku yang sekarang, karena telah menerimaku.

Satu prinsip besar dari ibu yang selalu kubawa di manapun aku berada adalah kebermanfaatan. Hidupku harus bermanfaat. Okelah, urusan adaptasi dengan guru dan karyawan sekolah baruku bisa ku-handle. Lah, anak-anak?

Satu hal yang kutakutkan saat aku pindah sekolah adalah mendapatkan cinta dari anak didikku yang baru. Akankah aku mendapatkan porsi cinta yang sama seperti yang kudapatkan dari anak didikku di sekolah lama?

Brandingku di sekolah lama sebagai guru muda, cerdas, energik, dan wangi akan selalu kubawa ke manapun. Termasuk di sekolah baruku ini.

Apa yang bisa kulakukan? Seperti biasa, berusaha untuk bekerja secara profesional, totalitas, dan mengajar dengan hati.

Eits, tunggu dulu, ternyata tidak bisa begitu saja. Di sekolah ini tantangannya jauh luar biasa. Sangat melelahkan.

Di awal-awal, aku sempat berkeluh kesah dengan ibu,

"Ya Allah, Buk, anak-anak sini ternyata pada bandel-bandel. Susah sekali diatur. Karena faktor keluarga juga kali, ya. Orangtuanya kan banyak yang kerja pabrik. Pengawasannya beda. Masak sih sama guru berani, malah nggak sopan. Aku ngajar kelas 1A muridnya 24 tapi berasa 40 anak. Padahal dulu di sekolah yang lama, aku terbiasa ngajar 35an anak, ya, santai-santai saja."

Ibuku hanya menjawab, "Masak kayak gitu saja nyerah?"

Kalau sudah keluar kalimat tersebut dari ibu, wah, aku bak ditantang nih. Aku harus bisa menaklukkan anak didikku yang sekarang.

Dan taraaaaa...

Dengan jurus balabala mereka kini terklepek-klepek denganku. Sehari saja aku izin, mereka akan ada yang ngambek, bahkan mogok tak mau sekolah.

Mereka yang selalu ingin dekat denganku

Terima kasih kesayangan Bu Ika, kalian sudah mencintai Bu Ika, tak jauh beda dengan anak didik Bu Ika yang dulu.

Oiya, di sekolah baruku ini aku diamanahi ngajar di kelas 1A nih. Lagi-lagi kelas satu. Hihi. Senangnya ngajar di kelas satu tuh kayak ngajar anakku sendiri. Mereka kan masih polos dan lucu-lucunya.

Aku sering lho dapat komentar yang unik-unik.

"Bu Ika kalau marah tuh jelek." Kata Agung.

"Bu Ika kalau nggak pakai kacamata kayak nggak pantas. Nggak cantik lagi." Kata Aisyah.

"Bu Ika minyak wanginya apa sih? Kok wangi terus sampai pulang." Tanya Mas Azka sambil mencium kerudungku saat antre berbaris.

Berbeda lagi saat aku harus berkumpul dengan anak-anak kelas enam. Jadi, karena beberapa kali menjadi pengawas try out, mereka berinisiatif ingin diajar olehku. Mereka minta les setiap kali pulang sekolah.

Foto bareng anak-anak kelas 6

Oh, ya, kenapa tidak? Selama ilmuku bisa bermanfaat, hajaaaar!

Tantanganku saat mengajar di kelas enam tentu berbeda dengan di kelas satu. Aku harus bisa jadi guru rasa teman bagi mereka. Dekat dengan mereka agar bisa lebih paham bagaimana menyelami masing-masing karakter anak. Ternyata memang benar, mereka merasa lebih dihargai saat didengarkan apa yang mereka sampaikan.

Berhubung aku ngajar les anak-anak kelas enam ini siang hari, tepatnya setelah murid-muridku kelas satu pulang, kemudian aku beres-beres kelas, jelas tinggal keringat doang kan?

Kalau pas cium tangan gini tanganku bau terasi kan aneh juga, ya.

Alhamdulillah, aku tertolong banget dengan produk dari Vitalis. Sehari-hari, aku menggunakan dua macam produk Vitalis, yaitu parfum dan sabun mandi cairnya.

Tiga varian vitalis body wash

Untuk sabun mandi, ada tiga varian rasa. Yaitu:

  1. White Glow (Skin brightening) dengan kandungan Licorice dan Susu membantu mencerahkan kulit. Kemasannya warna pink. Ini wanginya paling lembut.
  2. Fresh Dazzle (Skin refreshing) dengan kandungan Jeruk Yuzu dan Teh Hijau memberikan kesegaran saat mandi dan membuat mood lebih baik. Kemasan warna hijau ini aromanya segar. Cocok untukku yang energik.
  3. Soft Beauty (Skin nourishing) dengan kandungan Alpukat dan Vitamin E membantu menutrisi kulit dan menjadikannya lembap. Kemasannya ungu dengan wanginya yang elegan.

Alhamdulillah, aku sudah pernah pakai semua varian. Dari ketiganya aku paling suka wanginya yang kemasan warna hijau. Menurutku aroma Jeruk Yuzu yang dicampur dengan Teh Hijau tuh unik. Aromanya awet pula di kulit.

Warna cairan dari kanan ke kiri; putih, hijau, dan ungu. Warnanya pastel gitu. Pas difoto malah kelihatan putih semua, ya. Untuk teksturnya gak encer-encer bangetlah, lumayan kental.

Kalau Kak Ghifa, anakku, suka mandi dengan sabun cair ini karena baunya wangi, dan busanya banyak. Dia suka yang kemasan warna ungu.

Untuk yang pink, cocok banget untukmu yang kalem. Aromanya paling lembut dari ketiganya.

Menurutku, dari beberapa sabun mandi cair yang pernah kupakai, Vitalis Perfumed Moisturizing Body Wash ini kalau sudah dibilas tidak meninggalkan kesan berminyak. Terasa nyaman dan nggak keset-keset banget.

Setelah pemakaian secara teratur pun, kulit terasa lebih lembut dan halus. Ini karena di vitalis body wash ini mengandung skin moisturizer.


Soal kemasan, kesukaan emak-emak dengan balita super lincah dan aktif nih, tutupnya model yang ditekan/press. Jadi, jangan khawatir kalau bakalan dibuka sama si kecil, eh, tahu-tahu sudah habis karena buat mainan. Model botol kemasan vitalis body wash ini nyaman saat dipegang, pun tidak akan mengeluarkan cairan sabunnya kalau tidak dipencet. Alhamdulillah, aman jaya pokoknya.

Nah, agar setiap hari bisa mandi parfum dari vitalis body wash ini, aku biasa banget beli di toko serba ada dekat rumah. Kalau pas lagi berburu diskonan di Alfamart juga bisa banget, tersedia kok. Malah sekarang ini lagi ada diskonan tuh di Alfacart.com untuk kemasan isi ulang.

Harga vitalis body wash kemasan refill di Alfacart.com

Kemasan yang hijau, favorit aku, lagi diskon banyak. Kemasan 450 ml hanya dibandrol 12.500, Ya Allah, mau mau. Murah banget ini. Harga normalnya mah bisa dua kali lipatnya. Yuk, diborong!

Agar makin lengkap perawatanku, dari zaman dulu, aku selalu memakai parfum Vitalis Body Scent yang Bizzare, kemasan warna ungu. Wis pokoknya, kalau ke sekolah sudah modal mandi parfum Vitalis body wash dan disemprot pakai parfum Vitalis juga, aman jaya deh. Dijamin wangi selama bersama anak-anak. Aku nyaman, bisa tampil prima, tentu anak-anak akan semakin hepi belajar di sekolah.

Parfum andalan Bu Ika dari zaman dulu sampai now



Ternyata benar, sesuai firasatku, sejak September lalu kesehatan ibuku mulai tidak stabil. Enam bulan pertamaku di sekolah baru kuisi dengan penuh perjuangan.

Setiap kali anak-anak istirahat, aku pulang memandikan ibuku. Anak-anak pulang, setelah bersih-bersih kelas, aku izin pulang lebih dulu dibandingkan teman sejawat lainnya. Seminggu tiga kali aku harus mengantar ibuku terapi di rumah sakit, naik turun bus berdua dengan ibu.

Bapak saat menunggu ibu di depan ruang operasi

Bolehkah aku bilang kalau ini sangat melelahkan? Tapi, aku harus banyak bersyukur. Kalau saja aku masih di sekolah lama, aku nggak bakalan bisa merawat ibuku.

Terima kasih, ya, Allah.

Ingin menangis, tapi air mataku tak bisa keluar.

19 Februari aku mengantar muridku lomba tingkat Kabupaten

Kuberusaha semaksimal mungkin bisa profesional. Bahkan saat aku dipercaya kembali melatih anak-anak lomba, saat aku tak bisa lama-lama di sekolah, anak didikku mau latihan di rumahku.

Terima kasih, Anak-anak.

Tepatnya Sabtu, 8 Februari 2020, ibuku jatuh di depan kamar mandi. Keadaannya makin ngedrop setelah kemo 1. Senin, saat aku hendak mandi, ibuku memohon kepadaku.

"Kamu nggak usah sekolah, Nok. Ibu di rumah sama siapa?" Pintanya dengan raut muka memelas. Tatapannya kosong.

Aku langsung meletakkan handukku dan menemani ibuku. Malam harinya, tepat pukul 23.00 WIB, ibu kularikan ke IGD. Wajahnya tampak pucat. Kupikir karena efek diarenya, kalau dapat infus akan dapat cairan.

Sampai di IGD, tiga kali tusukan, infus tak mau masuk. Akhirnya, setelah minum teh hangat, infus bisa masuk dan ibu bisa masuk ruang rawat inap.

Ini saat kami berada di RS Tugurejo Semarang, menunggu kamar menjelang kemo 1 ibu

Sepanjang malam itu ibu mengeluh tidak bisa tidur. Gelisah ke sana-sini.

"Bapak telepon, Nok. Ibu pengen pulang. Ibu nyaman di rumah. Ibu pulang saja."

Begitu terus. Entah berapa kali ibu bilang seperti itu, tak terhitung.

Bapakku saat itu masih di pasar karena sudah telanjur belanja sayur banyak sekali.

Tepat pukul 10.00, setelah mungkin puluhan kali aku bolak-balik ke pintu depan sampai ruangan ibu untuk lihat mobil bapak sudah datang apa belum, ibu pulang dengan paksa. Aku sampai diharuskan membuat surat pernyataan.

Di rumah, ya, seperti biasa. Ngobrol ke sana ke mari dengan tetangga yang pada jenguk.

Entah apa yang terjadi, pukul 14.00 saat hujan turun begitu lebatnya, ibuku mengalami sesak napas. Segera ibuku dilarikan ke IGD lagi, tapi di rumah sakit yang lebih besar.

Sepanjang perjalanan, ibuku memegang erat tanganku. Sangat erat. Ibu masih sadar, tapi hanya diam menatapku.

Terus kutuntun untuk membaca ayat Alquran sebisa mungkin. Menyebut asma Allah, terus, dan terus. Beristighfar selalu.

Bapakku sudah kesetanan. Di luar sana hujannya begitu lebat. Sembari menyetir bapak mengelap kaca karena saking gelapnya di luar.

Setelah masuk IGD dan dipakaikan alat selang yang dihidung, kupamiti ibu untuk mengurus administrasi.

Saat semua beres, kukembali ke ruangan tapi ibuku sudah tak merespon. Kaki dan tangannya sudah seperti es.


"Ibu, Ibu, Ika di sini, Buk. Buk, tolong Buk, buka matanya. Bu, Ika belum bisa bahagiain ibu, ibu jangan gini, Buk. Bangun, Buk."


Akhirnya, air mataku pecah juga. Setelah berbulan-bulan lamanya mengering.

Inikah pertanda ibuku akan kembali ke Allah? Benarkah? Aku akan kehilangan ibu? Sanggupkah aku? Tapi, kasihan ibu kalau harus berjuang dengan kanker payudaranya yang sudah 3C (Belakangan kutahu kalau dokter merahasiakan bahwa kanker ibu sudah menyebar ke punggung demi ibu semangat berobat).

Bismillah, aku menandatangani surat pernyataan penolakan pemasangan alat selang pipis dan rujukan ke rumah sakit di Semarang.

Aku pasrah, saat itu adalah masa-masa terakhir ibu. Sampai hari itu perjuangan ibu.

Sehari sebelumnya aku merasa aneh saat ibu pasrah-pasrah kepadaku.

Aku, bapak, abi, dan terakhir ibu ingin ketemu Kak Ghifa.

"Uuuuhhh." Begitu respon ibu saat kutanya ingin bertemu dengan siapa.

"Ibu, kalau ibu mau pergi, insyaallah kami ikhlas, Buk. Ibu nggak usah khawatir, Ika bakal jaga bapak. Ibu kan tahu aku pinter cari uang, Buk. Aku bisa nulis terus kalau memang belum rezeki jadi PNS, Buk. Ibu yang tenang, ya. Nanti semua kumpul di rumah, ikhlas, Buk. Si Mbah Pati, Pak lek sudah perjalanan, Buk. Kita kumpul dan ketemu di rumah, ya."

Ibuku menghembuskan nafas terakhir dengan tiga tarikan napas yang halus dan indah banget. Alhamdulillah lengkap mengucapkan syahadat, aku dan bapak mendampingi ibu sampai benar-benar tenang.

Aku keluar ruangan. Saudaraku sudah menunggu dan berkumpul di depan pintu.

"Ibu sudah nggak ada."

Semua berteriak histeris. Nenekku jatuh pingsan, bulek gulung-gulung di depan pintu, keponakanku gembor-gembor nggak karuan.

Entahlah, harusnya aku yang paling sedih. Tapi, justru aku yang menenangkan keluargaku.

Alhamdulillah, maghrib ibuku sudah di jalan. Proses kepulangan ibu dipermudah Allah.

Di dalam mobil ambulans aku berujar dengan Pak Didik, sopir mobil ambulans, "Saya tidak pernah membayangkan bakal membawa pulang ibu saya dengan mobil jenazah, Pak."

Pak Didik hanya menjawab, "Sabar. Njenengan beruntung, semua keluarga pasti sudah ikhlas. Terutama ibu. Karena biasanya mobil mau dinyalakan ada-ada saja. Ini tadi langsung nyala. Nggak kepalang kereta juga. Insyaallah husnul khotimah, Mbak, ibu."

Mataku menghangat.

Ibu.

Kau pergi dengan sangat indah, Buk. Cantik, putih bersih, alismu begitu manis. Ibu seperti sedang tidur dan tersenyum kepada setiap orang yang hadir mendoakan ibu.

Bahkan, saat jenazah dimasukkan liang lahat, mereka yang mengantarkanmu begitu terkagum-kagum, Buk. Ibu sudah menginap semalam, tapi jenazah ibu masih seperti orang hidup. Tidak kaku sama sekali.

Insyaallah husnul khotimah, Buk.

Buk, di malam keempat ibu meninggal, kutemukan tulisan ini di aplikasi Notepad HP.


Aamiin, aamiin, semoga Allah mengabulkan, ya, Buk. Ika takut selama merawat ibuk, Ika tidak maksimal. Maafin Ika, Buk.


Buk, Kamis, 13 Februari 2020, ada pelangi yang indah banget di langit atas rumah kita, Buk. Semoga ini pertanda bahwa ibu benar-benar sudah tenang di sisi terbaik Allah, ya, Buk.

Buk, sampai sekarang, bunga di atas makam ibuk tak pernah absen. Banyak orang yang sayang sama ibuk sampai-sampai sering meluangkan waktu untuk menengok ibuk.

Ika, bapak, abi, Kak Ghifa, dan semua orang yang sayang ibuk akan selalu mendoakan ibuk. Tunggu kami di surga Allah, ya, Buk. Tunggu kami.


"Misal kamu keterima CPNS kan bisa bantu-bantu, Bapak. Lak yo ngunu to (Bukankah begitu)?"

"Kak Ghifa nanti ngaji di tempat Pak Mansyur, ya, Kak. Biar pinter ngaji."

"Nanti kalau pas tes, nggak usah ngoyo, kudu, kudu. Sing iso digarap, sing ora yo wis. Pasrah maring Gusti Allah, ya, Nduk. (Yang bisa dikerjakan, yang tidak bisa ya sudah. Pasrah kepada Allah)."

Setidaknya itulah pesan-pesan dari ibu selama aku merawat beliau. Awalnya aku tidak pernah mengira kalau itu seperti nasihat terakhir darinya. Karena memang kalimat-kalimat itu diucapkan saat kami mengobrol di sela-sela aku menyuapi ibu atau pas aku bermain dengan Kak Ghifa di kamar ibu.

Sebenarnya aku sudah merasa curiga, kok beda, lebih tepatnya yang kalimat terakhir tentang pesan ibu saat aku tes CPNS.

Aku tahu betul ibu. Beliau sosok yang cerdas dan ambisius. Apalagi kalau berhubungan tentang aku.

Dahulu, beliau selalu bilang, "Kamu kudu bisa ranking 1. Kamu kudu ini, ini, ini....(seperti yang pernah kutulis di blogku ini dengan judul Bu, Remehkan Saja Aku!)." Lha kok ini tiba-tiba ambisius ibu hilang dalam sekejap. Saat itu aku hanya diam saja, heran, mengangguk jadi pilihanku untuk meng-iyakan permintaan ibu.

Ibuku yang cantik. Ika kangen ibuk.

Ibuku meninggal tanggal 11 Februari 2020. Aku kembali ke sekolah hari Selasa, 18 Februari 2020. Saat itu yang kupikirkan adalah Allah itu baik, selesai 7 hari meninggalnya, ibuk, aku masih diberikan waktu untuk belajar materi SKD CPNS. Menurutku ini bukanlah suatu kebetulan. Ini adalah rencana Allah yang begitu indah dan rapi untukku.

Kubulatkan tekad, aku harus semangat, aku kudu bangkit. Setiap kali anak-anak sudah pulang, aku langsung bersih-bersih kelas, setelah itu belajar dari buku yang diberi oleh temanku yang sudah lolos CPNS tahun lalu.

Sampai di rumah, aku tidak bisa maksimal belajar karena harus mengurus semua anggota keluargaku; bapak, abi, dan Kak Ghifa. Waktuku belajar terbatas, paling saat menjelang subuh baru bisa pegang buku. Selebihnya aku bermodalkan youtube untuk belajar. Saat mencuci piring, cuci baju, bahkan saat memasak, youtube selalu menyala bak radio. Kudengar dan kadang-kadang melihat pembahasan soal yang disajikan.

"Insyaallah, aku yakin kamu bisa, Ka, untuk mencetak TOP SCORE. Bismillah. Ibuk mendampingi dengan cara-Nya. Kamu kudu semangat. Niatkan ini sebagai hadiah untuk ibuk."

Begitu pesan teman SMP-ku via DM Instagram sebelum dia menutup obrolan kami yang membahas tentang gambaran soal-soal SKD kepadaku. Aku hanya bisa meng-aamiin-kan. Di pelupuk mataku hanya ada ibu, ibu yang tersenyum kepadaku.

Hari H pun akhirnya tiba. Selasa Legi (hari weton ibuku), 25 Februari 2020, Bapak, abi, Kak Ghifa, ditambah nenek dan bulek mengantarkanku berangkat tes.

"Mbahe tak melu yo, ben atimu ayem ning kono. (Nenek ikut, ya, agar hatimu damai, nyaman, di sana)."

Terima kasih, terima kasih kepada semua orang yang telah mencintaiku. Ini tak lain karena semasa hidup ibu, beliau selalu mencurahkan cintanya kepada saudara dan sesamanya. Kini tinggal aku yang memetik dan meneruskan perjuangan ibu.

Saat itu aku mendapat jadwal ujian sesi 1, pukul 07.00 harus sudah mulai registrasi. Aku bangun pukul 03.00 kemudian menyiapkan bekal apa saja yang mau dibawa.

Semua makanan tinggal kuhangatkan, karena sudah kusiapkan malam harinya. Pukul 04.00 aku mandi. Tak lupa kugunakan sabun cair dari Vitalis yang Fresh Dazzle, warna hijau. Kunikmati aromanya, yang diperkaya dengan ekstrak Jeruk Yuzu dan Teh Hijau sebagai terapi menghilangkan rasa gugupku.

Tepat pukul 04.45, kami berangkat. Sampai di lokasi ujian sekitar pukul 06.00. Alhamdulillah, di perjalanan aku masih bisa tidur. Sambil menunggu pukul 07.00, aku langsung sarapan. Karena kupikir nggak bakalan deh sarapan banyak, sebelumnya aku makan buah pir sebutir, baru deh makan nasi 3 sendok. Kelar minum aku langsung mencari toilet.

Kurang 15 menit dari pukul 07.00, aku sudah bersiap menuju tempat registrasi. Semua yang mengantar kupamiti. Terutama bapak dan abi. Kupeluk erat, kuciumi tangan dan pipinya, "Doakan aku, ya, Pak, Abi."

Sumber foto dari facebook BKPP Demak

Aku melangkah meninggalkan mereka diiringi tangisan Kak Ghifa yang tak mau kutinggal. Saat itu dia masih syok dan berduka ditinggal pergi Mbah Uti-ibuku. Tapi, aku harus tetap pergi. Aku tak menoleh sedikitpun. Bismillah.

Registrasi lancar, saat menunggu waktu ujian, pukul 08.00, aku sempatkan untuk pipis lagi. Rasanya hatiku sudah campur aduk. Aku ingat pesan guruku, Pak Budi, untuk memperbanyak bacaan ayat kursi dan alfatihah. Kupatuhi itu sembari membaca bacaan Alquran sebisaku.

Deg deg an bangeeeeettt. Wis pokoke campur aduk. Sesekali kuusap-usapkan tangan kananku di dekat hidungku, ini kebiasaanku kalau gugup, tercium aroma Vitalis Perfumed Moisturizing Body Wash yang kugunakan tadi pagi. Menenangkan baunya.

Saatnya masuk ruangan. Mengingat cerita teman yang sudah ujian lebih dulu, tentang posisi duduk, kupilih yang agak jauh dari AC. Kududuk di sebelah peserta dari formasi guru bahasa inggris. Kami mengobrol sejenak untuk mencairkan suasana hatiku yang tak karuan. Kulantunkan ayat kursi dan al-fatihah terus menerus.

Mengerjakan 100 soal dalam waktu 90 menit. Kalimat soalnya panjang-panjang pula. Beberapa kali pikiranku ambyar, kayak orang ngalamun tapi masih mantengin layar PC, nggak fokus lah, sesering itu pula aku istighfar, nyebut sebisaku, mulutku komat-kamit, "Izinkan aku, Ya Allah, izinkan aku membahagiakan ibu dan keluargaku."

Kurang 10 menit, soal yang belum kukerjakan ada 3 soal hitung-hitungan. Pokoknya kukebut. Sampai akhirnya, sebelahku sudah keluar nilainya.

Aku makin deg-deg-an karena tinggal beberapa detik lagi waktuku juga akan habis.

Pasrah, pasrah, aku merasa bisa mengerjakan soal-soal tadi. Meskipun ada juga yang kurang yakin, Ya Allah.

"Lā haula wa lā quwwata illā billāhil 'aliyyil azhīmi."

Selesai.

"Allahu Akbar. Subhanallah."

Gemetar. Tubuhku seperti mau roboh.

"Allah, Allah, ibu."



Mendengar teriakan kagetku, tiba-tiba ibu pengawas dari BKN mendekatiku.

"Kenapa, Mbak?" Tanyanya seraya melihat layar PC di depanku.

"Ya Allah, selamat, Mbak, bagus nilainya. Semoga masuk SKB, ya." Ucapnya, kemudian memelukku. Aku malah terisak. Aku kangen pelukan ibuku dan kini aku dipeluk oleh ibu lain.

"Aku baru saja kehilangan ibuk saya, Buk."

Perempuan paruh baya itu malah memeluk erat seakan memberikan isyarat, sabar, sabar. Setelah mengucapkan terima kasih, aku ingin segera keluar ruangan.

Sayang, 399 peserta lain juga sedang mengantre untuk keluar. Aku mencoba mencari celah saat turun dari tangga lantai 2. Saat sampai di bawah, keluarga peserta tes sudah pada menanti.

Potret sebagian peserta SKD

Ah, nggak mungkin kalau bapak dan abi menunggu di sini. Mereka pasti masih di parkiran, nggak papa lah.

Kemudian aku berusaha mencari tahu terlebih dahulu peringkat nilaiku di layar yang dipajang panitia. Melihat layar menunjukkan nilai 300an, ah, kalau lihat di sini nanti kelamaan. Bapak kan harus pergi ke pasar juga. Akhirnya, aku memutuskan untuk balik saja ke parkiran untuk menemui keluargaku.

Aku harus jalan sekitar 100 meter-an untuk sampai di parkiran. Rasanya aku sudah tak sabar untuk segera bertemu dengan bapak dan abi.

Sepatu hak tinggiku, aaaah, hanya memperlambat langkahku saja. Ingin rasanya kupentalkan kemudian berlari secepat mungkin. Tapi, ya, urat maluku masih nempel. Terpaksa aku harus bersabar dan terus mempercepat langkahku.

"Mbah, bapak, bapak, mana?" Tanyaku ke nenekku.

"Lha piye? Bapak ning mobil." (Bagaimana? Bapak di mobil)

Aku langsung membelokkan langkahku menuju mobil bapak. Ternyata bapak menyadari kedatanganku. Langsung kupeluk, tangisku pecah.

"Alhamdulillah, Pak. Alhamdulillah, alhamdulillah Ya Allah. Bijiku apik (nilaiku bagus) banget, Pak."

"Alhamdulillah, Nduk."

Bapakku menengadahkan kedua tangannya. Kulihat bapak menangis. Kantung matanya terlihat bergerak-gerak, entah itu berkedut atau apa. Mungkin itu memang luapan kebahagiaannya.


"Ya Allah, terima kasih Kau izinkan aku memberikan kabar bahagia untuk bapak setelah beliau kehilangan belahan jiwanya."


Kurasakan Mbah dan bulek ikut nimbrung memelukku.

Abi tak ada di tempat, pasti sedang mengajak Kak Ghifa main agar tidak rewel. Setelah berganti memakai sandal, minum sejenak, kemudian aku pergi ke masjid. Allahu Akbar, Allahu Akbar, mulutku masih komat-kamit. Airmataku masih meleleh.

Baru setelah selesai salat, aku bisa mengendalikan diriku. Tak sengaja aku bertemu abi dan Kak Ghifa di persimpangan jalan. Sudah seperti film-film saja, aku langsung lari menghambur ke arah mereka. Kupeluk erat Kakak dan abi bingung. Sembari kubisikkan, alhamdulillah, alhamdulillah, abi ikut menyambut ucapanku dan kami malah berpelukan di jalan. Hahaha. Dilihatin orang-orang.

Yo wis ben.

Akhirnya, kami pun kembali ke parkiran. Kami langsung pulang dengan rasa syukur dan bahagia yang tak terkira. Sorot mata bapak tampak berbinar. Alhamdulillah, Ya Allah.

Pas masih di jalan, aku malah dapat kabar dari teman, kalau nilaiku masuk peringkat kedua dalam satu sesi.

Wah, alhamdulillah. Akan tetapi, aku tetap harus banyak berdoa. Karena aku tidak tahu nilai dari sainganku. Paling tidak, aku sudah agak ayem, karena kulihat yang dapat nilai di atas 400 hanya beberapa orang saja.

Hasil SKD sesiku

Kusampaikan kabar gembiraku itu ke beberapa grup keluargaku dan guru-guruku, yang selama ini tak lelah memberikan semangat dan memotivasiku baik aku dalam keadaan suka apalagi saat ditinggal ibu.

"Belajar lebih, berdoa lebih, minta maaf pada orangtua lebih, minta ampun lebih, sedekah lebih (tidak harus uang), & tawadhu' lebihhhhhh....

Semoga doa & harapan ibu diijabah Allah aamiin ya Robbal'aalamiin 🤲🏻🤲🏻🤲🏻🤲🏻🤲🏻"

Begitulah guru-guruku mendoakanku. Terima kasih.

Sampai hari ini, saat aku menulis postingan ini, rasa-rasanya aku masih seperti mimpi. Terlebih tentang kepergian ibu. Aku ingin sekali bisa jadi PNS, ini impian ibu. Tapi, saat sedikit lagi aku meraih semua ini, Allah punya rencana lain untukku dan ibu.


Ya, Allah-lah Sang Pemilik rencana ini.

Alhamdulillah, akhirnya hasil ujian SKD telah keluar. Aku berada di peringkat pertama dan harus bersaing dengan dua peserta lainnya untuk memperebutkan 1 formasi guru kelas.

Perjuanganku belum usai. Masih ada ujian tahap kedua, yaitu SKB, yang sampai saat ini jadwalnya belum keluar karena ada bencana virus Corona.

Bersama kesulitan ada kemudahan. Aku bisa menggunakan waktu ini untuk terus belajar. Aku tidak ingin lengah. Melihat selisih nilai yang banyak, pesaingku pasti tidak mau kalah semangat belajar.

Aku akan jauh lebih semangat dari pesaingku. Harus. Kudu semangat.

Akankah aku benar-benar akan menjadi bintang seperti yang kuinginkan?

Kata guruku, "Ketika kamu sudah kuat & siap, pasti Allah akan memberikan, Ka ☺🤲🏻."

Kini, kubalik, apakah aku sudah siap menjadi bintang? Menurutmu, apakah aku sudah kuat dan siap untuk jadi bintang?

TERAKHIR.

Untuk semua yang ada di sampingku, terima kasih. Meskipun aku anak tunggal, tapi aku tidak sendiri. Aku memiliki banyak bapak, ibu, dan saudara di mana saja aku berada.

Terima kasih juga untuk Vitalis yang telah hadir melengkapi hari-hariku. Nggak ada kamu, apalagi varian terbaru Vitalis Perfumed Moisturizing Body Wash, hidupku seperti ada yang kurang.