Tampilkan postingan dengan label Suami. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Suami. Tampilkan semua postingan

Rabu, 19 Mei 2021

Terima Kasih Allah, Ini Rumah Tangga yang Kuidamkan


Hati-hati dengan apa yang kita pikirkan, apalagi kalau setiap hari mikirnya itu mulu. Karena apa? Nanti pasti Allah kabulkan. Tentu di waktu yang tepat menurut-Nya.

Aku buktinya. Di awal pernikahan, siapa yang tidak menginginkan bisa hidup mandiri terpisah dari orangtua atau mertua? Sekalipun akhirnya menerima kenyataan harus tinggal serumah dengan orangtua, apalagi aku ini anak tunggal, tapi, perasaan ingin hidup secara mandiri masih selalu ada.

Bukan sok-sok-an sudah berpengalaman dalam berumah tangga, akan tetapi, kamu yang bisa tinggal mandiri tentu tahu kan rasanya? Serumah berempat, dengan pola pikir, latar belakang pendidikan, bahkan kebiasaan yang berbeda tentunya kerikil-kerikil tajam akan selalu terinjak.

Sampai akhirnya, setelah hampir 5 tahun menikah dan tinggal dengan kedua orangtuaku, semua berubah.

Ibuku Meninggal Karena Kanker Payudara

Ada rasa syukur yang tak terkira sampai sekarang karena aku bisa tinggal serumah dengan kedua orangtuaku. Khususnya ibu. Dengan tinggal serumah, aku bisa merawat ibu, menemaninya berjuang melawan sakitnya yang begitu mendadak (hanya 3 bulan setelah ketahuan) sampai akhirnya ibu menutup mata, aku bisa ada di sampingnya. Aku nggak tahu kalau sampai tak ada di samping ibu sampai akhir hayatnya. Rasa sesal akan begitu menggunung pastinya karena ego-ku untuk hidup mandiri lebih kuutamakan dibandingkan berada dekat dengannya.

Hai, Bu apa kabar?

Di lain sisi, aku merasa kaget karena kehilangan ibu. Apalagi kalau bukan karena campur tangannya selama ini. Aku terlalu terlena karena semua dibantu oleh ibu, baik dari mulai keuangan sampai mengurus anakku, Kak Ghifa. Di sinilah muncul, “Seandainya kalau aku sudah terbiasa hidup mandiri sejak awal, pasti tidak seperti ini.”

Ah, namanya hidup. Pasti ada sisi satu dan sebaliknya. Balik lagi ke Allah. Dia pasti memiliki maksud dan tujuan yang kita tak pernah tahu di awal. Nanti deh ending-endingnya bakalan bilang, ‘Oh, jadi ini rencana-Mu?”

Bersama Bapak Sampai Akhirnya Beliau Menikah Lagi

Ternyata, lebih berat merawat bapak dibandingkan ibuku yang sedang sekarat. Karena jujur, susah sekali menuruti keinginan bapak. Banyak maunya tapi kurang pengertian balik ke anak dan menantunya. Bisa jadi karena beliau sudah terbiasa semua yang handle ibu. Sekarang, saat ibu sudah nggak ada, mau nggak mau, bisa nggak bisa, kami (aku dan suami) harus menjadi seperti ibu yang bisa menuruti semua keinginannya. Padahal, kami sama-sama bekerja, pun punya balita.

Bapak makin tak ada waktu di rumah, pulang hanya saat maghrib tiba. Itupun membawa pekerjaan segambreng ke rumah yang harus kami bantu untuk menyelesaikannya. Aku dan suami mengidamkan, karena seharian sudah bekerja, selepas maghrib bisa menemani anakku untuk belajar dan mengaji. Tapi, apa? Akhirnya harus dipendam dalam-dalam. Nggak mungkin.

Berani membantah perintah Bapak, ho, ngamuk. Kami hidup seperti dalam tekanan. Padahal dengan orangtua kami sendiri. Ya, apalagi kalau bukan karena maunya dimengerti saja tapi tidak mau saling mengerti satu sama lain.

Ending cerita, selepas idul fitri Bapak menikah lagi, saat hari kematian ibuku baru satu tahun berlalu. Itupun dengan penuh konflik juga.

Ya Allah, bahagiakan Bapak.

Semua yang Terjadi Membuatku Sadar Akan Kehadiran Suamiku

Jeleknya tinggal serumah dengan orangtua itu adalah peranku dan suami akan tetap jadi anak, bukan orangtua. Setuju? Hal itu ternyata membuatku tidak menyadari peran suamiku juga. Karena apalagi kalau bukan masih ada bapak dan ibu yang bisa kuandalkan. Seakan-akan suami itu ya sekadar status suami. Kalau ada apa-apa orangtua yang selalu kuutamakan. Mau diskusi hal apapun juga orangtua yang pertama kuajak bicara, bukan suami.

Dari kenyataan kalau ibuku meninggal sampai bapakku menikah lagi dan tidak lagi hidup serumah dengan kami, kehadiran suami yang selalu ada untukku begitu kusyukuri. Sumpah, kalau tak ada suami, aku pasti sudah oleng.

Aku tahu setiap orang memiliki kekurangan, tapi suami bisa menerima kekuranganku, kenapa aku tidak? Bahkan, kalau boleh jujur, suamiku itu orangnya terlalu ‘nrimo’.

Dan satu hal yang membuatku selalu terenyuh adalah suamiku sampai sekarang masih setia ziarah ke makam ibu setiap Kamis sore dan sepulang salat Jumat. Orang-orang banyak yang heran, “Suamimu itu anak menantu, tapi melebihi anak ibumu sendiri. Beruntungnya ibumu.”

Padahal, dulu, suamiku disangsikan oleh kedua orangtuaku, apakah bisa menghidupiku kalau tanpa mereka? Sekarang? Lebih dari itu. Huhuhu, aku jadi sedih kalau ingat. Maafkan aku, Suamiku.

Sekarang, alhamdulillah, kami serumah hanya bertiga, aku, suami, dan Kak Ghifa. Alhamdulillah, meski awal ditinggal ibu rasanya terseok-seok, kini kami bisa berdiri lebih berani menegakkan kepala, tak tertunduk lagi karena menangis pilu.

Bahagia kami itu sederhana, bisa menghabiskan waktu bersama

Terlebih, kegiatan harian kami juga lebih tertata. Ya, sesuai yang kami idamkan. Selepas maghrib, aku bisa mengaji, kemudian menemani Kak Ghifa untuk belajar dan mengaji. Kami bisa makan malam bersama sembari cerita kegiatan seharian tadi. Setelah itu dilanjutkan dengan menonton TV bersama atau hanya bercengkrama di kamar. Alhamdulillah, nikmatnya.

Kehadiran suami makin kusyukuri saat aku harus melewati kehamilan anak keduaku saat ini. Dulu, saat hamil Kak Ghifa, semua yang handle ibu. Mulai dari makan mah aku tinggal makan saja, pokoknya dimanja banget. Sekarang, karena hanya tinggal bertiga, kalau nggak gerak, ya, nggak makan. Hihihi.

Alhamdulillah, alhamdulillah, suami selalu cekatan. Dia tak pernah berpangku tangan dengan pekerjaan rumah, ya, nyuci, jemur baju, ngepel, nyuapin Kakak, bahkan gantian memasak pun dia bisa. Tapi, aku juga tidak seenak udelku sendiri. Selama tidak loyo banget, aku tetap mengerjakan kewajibanku. Kalau sekiranya capek, baru deh minta tolong kepada suami.

Wong ya suami seharian juga sudah kerja, kan kasihan kalau harus menghandle pekerjaan rumah juga. Tapi, yang pasti, sejak tinggal bertiga kami selalu membagi pekerjaan rumah untuk dikerjakan bersama. Oleh karena itu, aku juga sadar diri, kalau pas malam tiba, suami ingin me time ya kupersilakan.

Me time suami tak aneh-aneh sih, suami juga bukan tipe orang yang suka keluar malam atau sekadar njagong ke rumah tetangga. Suami lebih suka menghabiskan waktunya dengan keluarga atau hanya menonton bola lewat HP atau laptop.

Andalan suami kalau misalkan mau menonton pertandingan sepak bola serie a big match, dia sering memantau jadwalnya di UseeTV. UseeTV adalah layanan portal hiburan, informasi dan lifestyle, berupa berbagai macam konten streaming digital maupun aplikasi, seperti video film, video klip musik, Live TV, TV on Demand yang dapat diakses melalui berbagai media seperti laptop, smartphone (handphone), dan tablet. Jadi, modal laptop dan internet saja suami sudah anteng.

Itulah curhatanku tentang rumah tangga yang kuidamkan. Tentunya kamu juga memiliki kisah tersendiri, ya, bagaimana rasanya bisa hidup mandiri ataupun harus tinggal dengan mertua ataupun kedua orangtua? Terpenting, apapun yang saat ini kamu alami, do the best. Karena kita tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi ke depannya.

Rabu, 27 Februari 2019

4 Hal Ini Jadikan Rumah Milenial Menjadi Sempurna

4 Hal Ini Jadikan Rumah Milenial Menjadi Sempurna - Seperti pasangan lainnya, inginku dulu, lima tahun tahun yang lalu sebelum menikah, sebagai pasangan milenial, memiliki rumah sendiri adalah sebuah keharusan. Kenapa demikian?


Karena printilan yang ada dalam hunian kami merupakan upaya dalam membentuk kesempurnaan hidup. Identik dengan idealisme yang tinggi, seorang milenial biasanya memiliki cara pandang yang berbeda. Ini hidup baruku dengan pasangan, maka tidak boleh ada campur tangan secara langsung dari orangtua.

Tidak heran, kalau seorang milenial diketahui memiliki perencanaan yang sangat kompleks saat memutuskan memiliki rumah sendiri. Baik saat membeli rumah hingga mengubah suasana hunian mereka. Tujuannya tentu untuk memberikan suasana yang terbaik, mulai dari mereka beristirahat dari kepenatan sehari-harinya, atau melakukan aktivitas produktif pada huniannya. Rumah adalah tempat kembali setelah seharian berkutat dengan kegiatan yang padat merayap. Setidaknya saat kembali rumah, kenyamanan adalah hal yang utama.

Melihat tren di tahun ini, ada beberapa poin yang sekiranya dapat mewakili konsep kesempurnaan dalam hunian seorang milenial.

Area Multifungsi
Kebiasaan milenial yang multi-tasking akan menuntut adanya sebuah area yang dapat mengintegrasikan aktivitas produktif di dalam huniannya. Dibanding harus memberikan satu area untuk satu aktivitas, milenial lebih cenderung untuk memaksimalkan satu ruangan untuk beragam aktivitas. Misalnya saja dengan memasukkan area bekerja mereka ke dalam kamar tidur atau membuat meja bar dalam dapur mereka.



Area Terbuka
Tidak sedikit dari para milenial yang mulai mementingkan keberadaan area terbuka dalam area huniannya. Selain memberikan kesan yang berbeda, desain area terbuka dikatakan dapat meningkatkan nilai positif baik secara visual maupun psikologis. Pandangan tersebut juga diketahui menjadi landasan generasi milenial saat memilih hunian baru mereka. Berdasarkan pandangan tersebut, saat ini tidak terlalu sulit menemukan rumah dijual dengan kondisi baru yang menawarkan area terbuka baik pada area taman depan rumah maupun bagian belakang rumah. Dalam memaksimalkan nilai positif secara visual dan psikologis, buat ruang terbuka pada rumah dengan memasukkan elemen-elemen alam. Misalnya dengan memberikan sentuhan dari tanaman-tanaman hidup atau memilih furnitur berbahan dasar kayu.

Langit-langit yang tinggi
Untuk mendapatkan nuansa hunian yang lebih segar pada hunian, membuat langit-langit yang tinggi dapat menjadi solusi tanpa harus mengeluarkan budget untuk perangkat-perangkat pendingin ruangan seperti air conditioner atau cooler. Keunggulan lainnya, kita akan mendapatkan pasokan udara alami yang lebih segar dibanding dari perangkat pendingin ruangan.



Selain memunculkan pertukaran udara yang baik, membuat langit-langit ruangan menjadi lebih tinggi, dalam pandangan desain interior, juga dapat memberi kesan yang lebih luas dalam sebuah ruangan, sekalipun bangunan hunian kita tidak terlalu besar. Lebih lanjut, langit-langit yang tinggi juga dapat memberikan kesan ruangan yang lebih terang. Untuk kesan yang lebih maksimal, sekiranya tinggi 3-4 meter merupakan ukuran yang paling ideal dalam membentuk nuansa ruangan yang luas, terang, dan segar.

Sudut Ruang yang Instagramable
Sebuah spot yang menarik untuk berfoto atau spot instagramable dapat menjadi pelengkap yang terbaik dalam rumah milenial. Ini juga mendukung kebiasaan 'update'  dalam media sosial bagi para milenial. Tidak harus membuat ruangan khusus untuk berfoto, setiap sudut ruang di dalam rumah sudah pasti dapat dijadikan sebagai objek foto atau latar belakang (background) untuk berfoto. Hal ini juga menunjang bagi para milenial yang tinggal dalam rumah bersubsidi yang hanya memiliki sedikit ruang pada huniannya. Spot tersebut bisa ada di dalam atau di wilayah luar rumah, bisa juga berjumlah satu atau lebih. Tinggal bagaimana kita memadukan sejumlah elemen dalam spot tersebut.


Ada beberapa cara dalam membuat spot yang instagramable, mulai dari memajang aksesoris-aksesoris (seperti lukisan, cermin, kain, atau hiasan logam), menggantung tanaman dalam ruangan, hingga memunculkan kesan artistik dan kreatif melalui penggambaran mural.

Bagaimana, kira-kira sudah ada pandangan rumah seperti apa yang cocok untuk kita, milenial? Atau dalam waktu dekat berencana untuk mencari atau membangun rumah milenial? Semoga 4 hal di atas bisa jadi gambaran ya. Terpenting, selain memiliki hunian, cari dulu pasangan hidup, sudah ketemu yang pas?


Semua foto direupload dari IG @kanyaka_wara_apsari

Kamis, 11 Mei 2017

Kurang Komunikasi? Bubar Jalan


"Haduh, lapar. Tadi siang cuma makan mie ayam." Aku segera menidurkan Kak Ghifa di kamar. Untungnya dia tidur, jadi, aku bisa langsung makan malam. Ehm, makan malam yang telat. Gimana nggak telat? Sudah pukul 20.30 WIB.

Rabu, 08 Februari 2017

Sebelum Membeli Jam Tangan, Para Pria Wajib Memperhatikan Hal Ini

[Artikel Placement yang disesuaikan]


Sumber gambar: pixabay.com

"Pada Perang Dunia I, beberapa perajin jam tangan membuat jam chronograph dengan jarum jam yang bisa terlihat meski di tengah kondisi gelap saat perang. Jam itu dilengkapi protektor untuk menghindari pecahan peluru."

Betapa pentingnya jam tangan, bukan? Orang-orang terdahulu kita ternyata sudah mengenal fungsi jam ya.

Kalau sekarang apakah fungsinya sudah berubah? Kini, selain sebagai penunjuk waktu jam tangan juga sebagai salah satu item fashion yang dapat menyempurnakan penampilan kita. Ini berlaku untuk perempuan maupun pria.

Khususnya untuk pria, kini, banyak sekali brand jam tangan yang menjual berbagai macam jenis model dan desain jam tangan. Ada brand jam tangan yang merilis jam tangan dengan desain yang macho, retro, kasual, klasik, elegan, sporty, dan masih banyak lagi desain lainnya yang bisa disesuaikan dengan kebutuhan.

Dalam waktu dekat mau membeli jam tangan atau menghadiahi orang terkasih? Sebelum membelinya, sebaiknya perhatikan beberapa hal di bawah ini.

1.Pilihlah desain yang tepat

Pilihlah jam tangan dengan model atau desain yang tepat dan sesuai dengan kebutuhan. Kita bisa memilih jam tangan dengan desain yang cocok jika dipadu-padankan dengan busana apapun. Jika kita ingin memiliki jam tangan yang cocok untuk semua jenis pakaian, maka kita bisa memilih jam tangan dengan gaya kasual ataupun klasik. Biasanya kedua jam tangan tersebut memiliki desain yang simpel dan elegan serta dilengkapi dengan tali strap yang terbuat dari kulit.

2. Jam tangan memiliki kualitas yang baik

Pastikan jam tangan pilihan kita memiliki kualitas yang baik sehingga kita bisa memakai jam tersebut dalam jangka waktu yang panjang. Sebaiknya kita jangan mudah tergiur dengan diskon besar-besaran karena belum tentu jam tangan dengan harga yang diskon itu memiliki kualitas yang baik. Mahal sedikit tapi kualitasnya bagus. Bukan begitu?

3. Membeli jam tangan branded

Tidak ada salahnya jika sesekali kita membeli jam tangan yang  branded. Dengan membeli produk, khususnya jam tangan yang bermerek maka rasa percaya diri seseorang akan menjadi bertambah. Selain itu, jam tangan bermerek juga terkenal dengan kualitas yang dimilikinya sehingga kita tidak pelu membeli jam tangan untuk beberapa tahun ke depan. 

4. Sesuaikan harga jam tangan dengan budget

Jangan lupa untuk selalu menyesuaikan harga barang yang kita inginkan dengan budget yang dimiliki. Jangan sampai harga jam tangan yang kita inginkan menguras seluruh gaji atau tabungan. Kita bisa membeli jam tangan bermerek dengan harga diskon (tapi harus selektif ya). Karena itu bisa menghemat pengeluaran kita. Kalau yang suka online shop, bisa cek di MatahariMall nih. Harga di sini sangat bersahabat sehigga tidak akan membuat dompet kita mendadak jebol. Hihihi.


Itulah keempat hal yang perlu diperhatikan sebelum membeli jam tangan. Jangan lupa pilihlah jam tangan berkualitas dengan harga yang bersahabat. Selamat mencoba!

Sabtu, 16 April 2016

Saat Hubungan Suami Istri Mulai Renggang


Siapa coba yang ingin hubungan dengan suami atau istrinya menjadi renggang? Inginnya selalu damai, aman, dan tentram selalu ya. Inginnya pula dipertemukan kembali di surga Allah nanti. Akan tetapi, saya, Anda, dan suami saya adalah manusia. Makhluk paling sempurna-Nya ini memiliki nafsu. Ada kalanya muncul rasa cemburu, kesal, iri, merasa tak diperhatikan, dan lainnya. Apakah itu wajar?

Orang bijak selalu bilang, pernikahan itu harus ada bumbunya. Kalau tidak, akan terasa hambar. Jadi, kalau ada rasa-rasa yang membuat getir di hati tak masalah kan ya? Tergantung kita harus cerdas menyikapinya seperti apa. Tak jarang, banyak juga yang tak lolos memaknai perasaan tersebut sebagai bumbu pernikahan dan berakhir menjadi sebuah perceraian. Astaghfirullah...

Selasa, 06 Oktober 2015

Sebelum dan Sesudah Menikah

Assalamualaiakum.

Sebelum dan Sesudah Menikah. Gara-gara nonton talk show di TV yang dibawain sama Cici Panda, jadilah postingan ini.

“Breeb...brebb...breeeeebb....”

“Ummi atau Ghifa yang kentut?” tanya Abi. Saya hanya cengengesan. Coba saja kalau lagi pacaran mana berani kayak gitu ya? Yang ada kalau mau kentut pura-pura ke belakang dulu atau cari alasan lain. Jaim. Betul? Yang setuju angkat tangan!
sumber gambar dari kartun.co

Kamis, 20 Agustus 2015

Berharap? Kepada Allah Saja!

Assalamualaikum.

Anda korban PHP (Pemberi Harapan Palsu) sesama makhluk Allah? Makanya kalau berharap kepada Allah saja. Karena Allah tak akan pernah memberikan harapan palsu kepada hamba-Nya. Tak seperti manusia.

Gambar dari google

Rabu, 15 Juli 2015

Saat Suami Sakit

Assalamualaikum.

Ah, abi itu sakit karena disengaja! Awalnya, saya berpikir seperti itu. Akan tetapi, melihat suami teler dan nggak berdaya, naluri sebagai seorang istri muncul dong dalam diri saya. Berusaha merawatnya dengan cekatan.

Saya sebut ini berkah di bulan ramadhan. Di minggu terakhir bulan ramadhan ini suami tiba-tiba jatuh sakit. Bukan sakit yang berat, hanya flu. Akan tetapi, flu kali ini berbeda dari biasanya. Kalau biasanya suami flu tanpa demam, eh ini demamnya tinggi banget. Otomatis saya kalap dong.

Selasa, 09 Juni 2015

Hal-Hal yang Perlu Diketahui (Calon) Orangtua untuk Tumbuh Kembang Si Kecil

Assalamualaikum.

Langit agak mendung saat kami, saya dan suami, hendak pergi ke Semarang. Hari Minggu ini memang berbeda dari biasanya. Kalau rutinitas hari Minggu lainnya kami hanya di rumah menikmati hari libur kali ini saya (khususnya) akan menimba ilmu parenting di Hotel Santika Premier Semarang.

Setelah nyasar sana-sini karena ada CFD di simpang lima Semarang, akhirnya kami sampai juga di lobi hotel. Di luaran hotel sudah banyak sekali terpampang umbul-umbul bertuliskan “Aku dan Kau suka Dancow”. Ya, saya mendapat kesempatan emas dari komunitas blogger Gandjel Rel untuk mengikuti #DancowParentingSeminar yang bertema "Maksimalkan Perlindungan Si Kecil dengan Nutrisi dan Stimulasi Tepat". Beruntungnya diri ini.

Pengumuman acara #DancowParentingSeminar
Seminar ini adalah seminar yang paling berkesan diantara seminar-seminar yang pernah saya ikuti selama kuliah dan kerja. Kenapa?
  1. Moderatornya adalah artis idola saya, Shahnaz Haque.
    Siapa sih yang tak kenal perempuan inspiratif yang satu ini?
    Foto dokumen pribadi
  2. Kehadiran narasumber yang berkompeten di bidangnya. Ada Bu Tati ( Dr. dr. Saptawati Bardosono, M.Sc) yang ramah dan bijaksana, Bu Ratih ( Dra. Ratih Ibrahim, M.M., Psi) yang humoris, dan dokter paling muda dan cantiknya melebihi kecantikan di fotonya, yaitu dr. Vinka Desria atau akrab disapa dr. Vinka.

    Narasumber yang kompeten di bidangnya
    Foto Dokumen Mbak Inung
  3. Seminar tidak membosankan (meskipun mulainya agak molor *hihihi) dan sangat komunikatif.
  4. Acara bertabur hadiah.
    Bumil juga kebagian hadiahnya.
    Foto dokumen @DancowCenter
  5. Materinya sangat dekat dengan saya, calon ibu.
    kiri-kanan, Mbak Noorma, saya, Mbak Inung, dan Mbak Unik.
    Foto Dokumen dari Mbak Inung
Ngomong-ngomong soal materi, sebenarnya pas dapat kesempatan untuk ikut seminar ini saya sempat berpikir, "Akankah tema ini sesuai dengan saya? Kan baru hamil. Dilihat dari temanya saja sudah jelas kalau pembahasan akan lebih condong ke perkembangan anak-anak." Eh, setelah di sana baru deh saya sadar, justru acara ini sangat bagus untuk saya yang baru hamil. Bukankah nantinya saya akan menjadi seorang ibu?

Nah, bagi teman-teman yang belum mendapat kesempatan untuk ikutan #DancowParentingSeminar, saya akan berbagi apa yang saya dapatkan dari #DancowParentingSeminar berkaitan dengan Hal-Hal yang Perlu Diketahui (Calon) Orangtua untuk Tumbuh Kembang Si Kecil nantinya.
  1. Bagi jomblo, temukanlah jodohmu dengan segera. Nah, apa hubungannya? Hihihi. Kalau yang namanya sudah jodoh akan ada cinta, laki-laki, dan perempuan, kemudian menikah, syukur-syukur langsung diberikan keturunan. Inilah cikal bakal kehidupan. Jadi, segera temukan jodohmu. Emang bisa? *Lah
  2. Anak itu adalah berkah dan karunia Allah. Bersyukurlah bagi kita yang sudah memiliki anak atau sedang hamil. Di luar sana banyak lho yang sudah menikah bertahun-tahun tapi belum diberikan kesempatan sama Allah untuk memiliki anak. Mari bersyukur, alhamdulillah.
  3. Tumbuh kembang anak itu bergantung cinta ayah dan ibu, bukan hanya ibu saja lho ya. Jadi, kalau masih ada anggapan kalau anak itu urusan ibu, no no no! Emang anaknya siapa? Berdua kan?
  4. Persiapan kesuksesan tumbuh kembang anak itu dimulai sejak awal program kehamilan (sebelum hamil), selama hamil, dan seterusnya. Ini nih yang membuat saya manggut-manggut, iya ya, selama ini banyak banget orang (termasuk saya) yang mens-nya telat kemudian baru diperiksakan, tahu hamil, baru deh menjaga pola makan dan hidup. Nah lhooo!
  5. Menjadi orangtua itu tidak ada sekolahnya. Jadi, kalau sudah memutuskan untuk menikah, jangan pernah berhenti belajar. Belajar bisa dari mana saja, dari lingkungan, baca buku, cari informasi dari internet, ikut seminar semacam #DancowParentingSeminar, atau tanya kepada ahlinya. Jangan mau jadi orangtua yang gaul di sosmed tapi nggak gaul sama info parenting!
  6. Berikan yang dibutuhkan anak bukan hanya yang disukai anak. Misalnya, 
  7. Tiga hal penting yang dibutuhkan oleh anak adalah nutrisi, attachment (kelekatan), dan stimulasi.
  8. Nutrisi, menurut dr. Vinka ada tiga nutrisi penting, pertama, nutrisi untuk perlindungan, terdiri dari: serat pangan (contoh inulin), probiotik, vit A, C, E, mineral Selenium, dan Zink, serta perkembangan otak. Kedua, nutrisi untuk otak, terdiri dari: minyak ikan-DHA, LA, ALA, kolin, dan pertumbuhan. Ketiga, nutrisi untuk pertumbuhan, terdiri dari, protein dan kalsium.
  9. Attachment (kelekatan) adalah ikatan emosional antara anak dengan ibu atau pengasuhnya. Kapan terakhir Anda memeluk anak Anda? Kegiatan sepele tapi akibatnya begitu luar biasa. Tadi pagi saya baca berita ada lho seorang ibu yang sekarat bisa sadar karena pelukan dari bayinya. Keren banget ya? Inilah pentingnya attachment. Dan taukah Anda? Attachment yang baik akan menjadikan anak tumbuh menjadi pribadi yang kuat dan mandiri. Karena attachment adalah ruh bagi setiap anak.
  10. Stimulasi. Stimulasi yang tepat itu yang seperti apa? Stimulasi dari orangtua yang mampu menjadikan dirinya sebagai contoh. Inilah jawaban dari pertanyaan bahwa keluarga (ayah dan ibu) adalah sekolah pertama bagi anak. Satu lagi stimulasi yang sering terlupakan adalah pujian. Ya, jangan pelit pujian bagi anak!
  11. Tak ada yang mahal untuk bisa sehat. Untuk memberikan yang terbaik bagi anak tak perlu kok yang mahal-mahal. Terutama masalah nutrisi. Salah satu nutrisi yang penting bagi tumbuh kembang anak adalah probiotik. Nah untuk mendapatkannya Anda tak perlu merogoh kocek terlalu dalam, karena tempe adalah salah satu makanan yang banyak mengandung probiotik lho. Tahu wortel? Wortel itu ketika dimasak akan menjadi MSG alami. Jadi, sehat tak perlu MSG tambahan. Bagaimana? Sehat itu murah bukan?
Nah, itulah Hal-Hal yang Perlu Diketahui (Calon) Orangtua untuk Tumbuh Kembang Si Kecil. Mau memiliki anak yang tumbuh menjadi individu yang cerdas, dan sehat? Mau mau mau. Yuk, belajar lagi menjadi (calon) orangtua yang cerdas bagi anak-anak kita! Tak ada kata terlambat.

Oya, jangan lupa untuk update terus pengetahuan kita tentang tumbuh kembang si kecil dengan mengakses www.dancow.co.id/dpc, FB: Dancow Parenting Center, atau follow twitter @Dancowcenter.

Foto bersama anggota Gandjel Rel
Foto dokumen dari Mbak Inung
Terima kasih Dancow, terima kasih Gandjel Rel :)

Jumat, 01 Mei 2015

Karena Dia Terlalu Mencintai Saya

Assalamualaikum.

Karena Dia Terlalu Mencintai Saya.

“Seperti tumbu bertemu tutupnya.”

Pernyataan itu sangat cocok bagi saya dan suami. Saya yang keras kepala berjodoh dengan laki-laki yang berhati lembut dan penyabar. Saya yang cerewet berjodoh dengan laki-laki yang cukup berbicara dan pintar nyrateni ucapan saya. Saya yang boros berjodoh dengan laki-laki yang hemat dan telaten. Dialah suami saya.

Setiap hari, semenjak empat bulan lalu kami menikah (masih hangat-hangat tai ayam), saya selalu terkaget-kaget dengan sikap suami. Bagaimana tidak? Empat tahun bersamanya, meski jarang bertemu, komunikasi hanya lewat HP, saya kira saya cukup mengenalnya. Ternyata tidak!

Laki-laki di samping saya inilah yang terlalu mencintai saya
Uh...Saya sering dibuatnya emosi. Sepele sih maslahnya, namanya juga perempuan *pembelaan*. Baju kotor diletakkan sembarangan. Paling ogah cuci tangan. Sering kelupaan gosok gigi tiap kali mau tidur. Buang sampah sembarangan. Dan satu lagi, kalau tidur dia mendesis. Seperti ular. Atau jangan-jangan suami saya ini siluman ular? Amit-amit! *cium suami

Saya tentu mengomel! Tahu apa reaksinya?

“Maklum sayang, dulu kan hidup sendiri di rantau....”

“Maklum sayang, dulu kalau makan sering telat, jadi tanpa cuci tangan langsung makan. Lapar.”

“Maklum sayang, dulu sering kecapekan jadi sering ketiduran nggak gosok gigi.”

“Maaf sayang...”

“Masak sih ngorok? Apa mungkin kecapekan ya?”

Batin saya, alasannya dulu, dulu, dan dulu. Ah, apa yang keluar dari mulutnya selalu membuat saya luluh. Kasihan?  Atau karena cinta. Yang pasti, saya tahu bagaimana perjuangannya, dulu. 
Sebalnya lagi, saya baru tahu kalau dia itu alergi debu. Terkena debu sedikit saja, dia pasti langsung bersin seharian. Dia juga anti es, sekali tenggak segaaaar, setelah itu batuk dan pilek langsung menyerang. Tentu itu sangat mengganggu, apalagi kalau hendak tidur. Saya jadi susah tidur pula.

Dibalik itu semua.

Saat waktu tidur tiba, tentu setelah dia menggosok giginya, hehehe. Menyediakan minum untuk saya. Mematikan lampu. Dia juga tak pernah lupa mengecup pipi kanan kiri saya, kening, dan mengucapkan “Selamat tidur sayang...” Saya hanya diam. Tak pernah membalasnya.

Setiap kali hari Sabtu, saat dia mendapat gaji mingguannya, dia selalu mengeluarkan bungkusan plastik berwarna hitam dari bagasi motornya. Tahu apa isinya? Buah kesukaan saya, buah pir. Dasar mulut saya yang cerewet, saat pertama kali dia pulang membawa buah pir, saya sempat menyemprotnya, “Pasti abi nggak milih, nih ujungnya udah agak busuk! Kan sayang...” Dia hanya menjawab, “Maaf sayang...”

Setiap pagi hari, saat saya mulai hectic karena akan ke sekolah, tahu apa yang dilakukannya? Memanasi motor saya, mengecek mesin dan isi bagasi saya sudah ada jas hujan atau belum. Satu lagi, dengan sangat telaten dia menyiapkan nasi untuk saya. Termasuk bekal untuk siangnya. Kadang dia malah menawarkan diri untuk menyuapi saya. Sesekali saya terima.

Saat malam berteman sepi tiba, saya sering menghitung dan menimba apa yang selama ini sudah saya lakukan ke dia. Mengenang semua apa yang dilakukannya. Mengoreksi diri sendiri. Yang selalu terngiang hanyalah cintanya. Tapi apa yang saya lakukan? Mulut saya terlalu cerewet. Saya terlalu besar gengsi. Tak pernah membalas kecupannya setiap hendak tidur.

“Ah...istriku yang cantiikkk sekaliii....(memeluk saya). Abi beruntung memiliki istri seperti, Ummi.” Seperti itulah tiap kali selesai jamaah sholat maghrib. Saya malu-malu menolaknya.

Bukankah saya ini istri yang tak tahu diri? Dia begitu mencintai saya. Dia begitu sabar menghadapi saya. Dan dia baik, baik, bahkan baik sekali. Bukan dia yang beruntung mendapatkan saya, justru saya-lah yang beruntung memiliki suami seperti dia. Karena dia terlalu mencintai saya.

“Ya Allah, ijinkanlah saya mencintainya lebih dari ini. Selalu jaga dia. Maafkan saya jika lupa mensyukuri betapa beruntungnya saya memiliki suami sepertinya.”

Jumat, 13 Februari 2015

Kangen Mandi di Kali

Minggu-minggu ini, sekolah sering libur. Terutama untuk anak-anak. Ada beberapa lomba dan event besar di desa letak sekolah saya berada. Mumpung libur, saya tidak melewatkan kesempatan ini pastinya.

Saya dan suami memutuskan untuk menginap di tempat mertua (saya). Jujur, saya penasaran dengan event besar di desa asal suami sekaligus tempat saya mengajar. Selama ini hanya mendengar cerita dari orang, terlebih suami yang sering meng-iming-iming keseruan acara tersebut.

Eh, eh, bukan acaranya yang seru tapi kejadian yang saya alami bersama suami-lah yang seru. Bagaimana tidak? Pukul 04.00 tidak tahu setan apa yang lewat tiba-tiba suami batuk tak ada henti-hentinya. Semua penghuni rumah pada bangun karena kejadian tersebut.

Satu jam, setelah saya kerok punggung, leher, dan dadanya, alhamdulillah suami bisa kembali tidur pulas. Saya juga ikutan tertidur. 10 menit kemudian bangun, sholat subuh.

Selesai sholat subuh, saya ikut ke dapur membantu mertua yang sedang memasak. Biar dikira mantu yang pengertian. Hehehe. Tak lama suami bangun.

“Mi, mandi di kali, yuk?” ucap suami sambil berlalu hendak wudhu. Saya hanya mengangkat alis sambil mengaduk susu coklat untuk suami.

“Umi ikut ke kali tapi nggak ikut mandi ya? Abi saja.”

“Oke.naik motor atau jalan kaki?”

“Jauh?”
***

Suami sudah mengeluarkan motor dan memanaskan mesinnya. Saya nunggu di kursi teras sambil memegang sabun mandi dan sampo. Saya penasaran, kali yang diceritakan suami selama ini itu seperti apa.

Kami pun berangkat. Jarak kali dan rumah mertua kira-kira 250 meter. Sepanjang perjalanan masih banyak pohon jati dan jalannya pun masih menggunakan batu kuning. Jadi, kalau hujan pasti becek dan banyak airnya. Jangan ditanya ya bagaimana udaranya, masih sejuk banget lho. Jarang-jarang saya mendapatkan udara yang seperti ini. Sayangnya tempatnya sepi, serem.

Setelah melewati jembatan tua, tampaklah sungai selebar 3 meter di depan mata. Saya yakin sekali mata suami saya pasti sangat berbinar-binar melihat pemandangan ini *lebay. Motor segera di parkir dan suami tak langsung terjun ke kali justru memandangi hamparan sawah di samping kali tersebut.

Suami sambil menenteng celana ganti memandang hamparan sawah nan hijau

"Belum ada dua bulan, rasanya sudah pangkling."

Hahaha, Suami mulai lebay. Kangennya tak ketulungan. Maklum kalau di rumah tidak bisa lihat yang seperti ini.

Setelah puas memandangi sawah, suami pun tak sabar ingin segera terjun ke kali.

Suami tak sabar ingin terjun ke kali

"Yakin?" suami bertanya apakah saya tidak ingin ikut mencicipi air kali yang tampak tidak bening (habis hujan) ini. Saya hanya geleng-geleng.

"Abi renang ke sini ya?" pinta saya yang menunggu suami di atas jembatan beton.

Suami siap-siap terjun ke kali

Suami makin girang setelah merasakan air kali yang segar.
Di belakang suami sana ada juga ho rombongan anak-anak yang sedang mandi.

"Sini, Bi. Sini, Bi."

"Haiiiii...."

Duh, senengnya yang renang sana-sini.

Pukul 07.00 tepat, suami mentas dari kali. Wajahnya tampak seperti anak-anak yang mendapatkan permen setelah merengek minta permen pada ibunya.

"Seger bener. Enak ya, Bi?"

"Bukan enak. tapi kangen mandi di kali. Sejak kecil kalau badan abi mulai tidak enak, misalnya pilek, batuk-batuk, pasti mandi di sini. Dan alhamdulillah sembuh. Bukan suatu kepercayaan sih, tapi kalau sudah slulup di kali itu rasanya plooong." saya hanya diam mendengarkannya.

Kami pun pulang. Di jalan, tiba-tiba abi bersin. Apakah itu tanda mak plong? Subuh tadi saat batuk, riak dalam tenggorokan suami tak bisa keluar, apakah ini keluar lewat ingus bersin suami? Ah, sudahlah.

Saat saya menuliskan postingan ini, batuk suami sudah sembuh karena semalam minum obat batuk. Semua kembali pada Allah. Terpenting, suami sumringah karena bisa membalas rasa kangennya, yaitu mandi di kali.

Selasa, 06 Januari 2015

12 Ciri Pernikahan Bahagia

Cieee yang pengantin baru bawaannya posting yang berbau nikah-nikah terus. Biarin! Hahahaha.

Mumpung masih hangat-hangat tai ayam, nggak ada salahnya dong kalau saya selalu belajar mencari tahu cara mewujudkan pernikahan bahagia di dalam rumah tangga saya. Salah satu cara belajar saya ya dengan mengumpulkan beberapa informasi dari berbagai sumber. Salah satunya twitter.

Bisa jadi ini sudah rencana Allah. Tadi pagi, saat saya sedang membuka twitter eh saya baca beberapa kultwit dari Anna Surti Ariani (@AnnaSurtiNina), seorang psikolog anak dan keluarga. Ilmu baru dan menurut saya perlu disimpan agar bisa dibaca ulang dan dibagikan untuk yang lain. Segeralah saya share di blog ini.

Nah, berikut 12 ciri pernikahan bahagia menurut Mary Kay DeGenova dalam buku ‘Intimate Relationships, Marriages & Families yang telah diuraikan oleh @AnnaSurtiNina dengan panjang kali lebar sama dengan luas.

Ciri #nikahbahagia 1) Komunikasi yang baik. Kedengeran standar banget ya? Tapi beneran lho, semua yang komunikasinya oke jadi hepi pernikahannya. Komunikasi OK itu artinya bisa saling bicara tentang apapun, bisa bicarain masalah & menyelesaikan bersama, berbagi perasaan saling mendengarkan. Komunikasi efektif itu mencakup: kemampuan bertukar ide, fakta, perasaan, sikap & keyakinan. Sehingga mestinya nih, pesan dari pengirim didengar-diterima-dipahami-diinterpretasikan dengan baik oleh penerima pesan. 
Ciri #nikahbahagia 2) Rasa kagum & respek terhadap pasangan. Ketika kita bangga dengan pencapaian pasangan, mengapresiasinya secara terbuka, maka pasangan akan merasa diterima dan dihargai. Hal ini yang nanti berbalik jadi saling mengagumi & menghargai. Kata para ahli, mereka yang mudah mengagumi & menghargai pasangan, seringkali adalah mereka yang dulunya dibesarkan dalam pernikahan bahagia orangtuanya sehingga mereka ‘emotionally secure’. Di satu sisi, ini mesti jadi tanggung jawab kita buat anak-anak kudu membentuk pernikahan bahagia agar kelak mereka bahagia sebagai individu dewasa. Di sisi lain, nggak perlu merasa sial jika orangtua kita dulu tak bahagia. Kita bisa kok memilih jalan hidup berbeda dari orangtua kita, jalan hidup yang lebih bahagia.

Sumber di sini

Ciri #nikahbahagia 3) Persahabatan dengan pasangan. Ini berarti saling menikmati waktu berkualitas bersama pasangan, ‘couple time’ gitu lho. Tak berarti pasangan haruslah best friend kita. Yang penting kita bisa saling berbagi hobi, lakukan aktivitas bersama dengan senang. Gak cuma itu, pasangan bahagia juga punya banyak ‘mutual friend’, bukan hanya di media sosial, tapi juga di dunia nyata. Nggak berarti pasangan kudu barengan mulu, gak seru itu! Mesti tetap punya ‘me time’, tapi  bisa nikmati ‘couple time’. Bahagia banget lho kalau bisa tertawa bersama pasangan dengan saling menatap mata satu sama lain.
Ciri #nikahbahagia 4) Saling berbagi spiritualitas & nilai hidup. Pengalaman spiritual termasuk pengalaman yang sangat intim, sehingga ketika dibagi dengan pasangan, akan meningkatkan keintiman / rasa saling ingin dekat dengan pasangan kita. Kesamaan agama / keyakinan dengan pasangan juga memudahkan pernikahan, karena bisa sama-sama cari bimbingan agama untuk masalah yang dihadapi. 
Ciri #nikahbahagia 5) Menjalankan komitmen. Bukan komitmen yang kaku, tapi keinginan bersama untuk membuat pernikahan jadi lebih bahagia. Semua pasangan alami masalah serius yang membuat keyakinan bahwa pernikahan bisa dipertahankan berkurang, namun dengan motivasi membahagiakan pernikahan, pasangan terus berusaha menghancurkan hambatan dan menyelesaikan masalah. Komitmen menikah sebaiknya berasal dari diri sendiri (bersama dengan pasangan), bukan disuruh berkomitmen oleh orang lain. 
Ciri #nikahbahagia 6) Saling memenuhi kebutuhan afeksi. Ada yang suka PDA (public display affection), ada yang nggak. Sepakati dengan pasangan. Perlu diperhatikan juga pasangan itu sukanya disentuh di bagian mana, dipeluk seperti apa, bicarakan satu sama lain. Ada orang-orang yang tak suka disentuh di bagian-bagian tertentu, jika pasangan tak tahu, bisa tingkatkan pertengkaran. Perlu cek ke pasangan. Contoh, ibu hamil ada yang suka dipijat punggungnya, ada yang lebih suka dielus-elus pinggangnya, ada yang ingin dibelai di kepala saja. Seringkali masalah pernikahan adalah ketidaksesuaian bahasa cinta, karena beda jadi mengira dia tak sayang. Maka dari itu perhatikan juga cara mengungkapkan bahasa cinta. 
Ciri #nikahbahagia 7) Kemampuan menangani krisis & stres sebagai pasangan. Baiknya sih memang saling mendukung dan menguatkan. Pasangan yang bahagia punya level toleransi yang lebih besar untuk frustrasi, lebih tahan banting ketika hadapi masalah. Ada orang-orang yang mudah ‘jatuh’ ketika hadapi masalah. Jika Anda seperti ini, maka Anda harus konsul ke psikolog klinis dewasa. Jika Anda / pasangan Anda moody, kasar, mudah gugup, mudah marah, buruan bikin janji ke psikolog klinis dewasa / perkawinan. 
Ciri #nikahbahagia 8) Bertanggungjawab. Perlu ada kesetaraan & pembagian tanggung jawab antar pasangan, tentunya saling dikomunikasikan. Yang paling sering mengeluh tentang pembagian tanggung jawab adalah istri, tapi ada juga suami-suami yang mengeluh. Harusnya pembagian & kesetaraan tanggung jawab seperti apa? Tiap pasangan beda, makanya harus dibicarakan dengan pasangan. Dalam hidup pernikahan, kita nggak bisa berasumsi atau cari standar dari orang lain. Kudu pasangan yang menentukan maunya gimana. 
Ciri #nikahbahagia 9) Pentingnya ketidakegoisan. Penting untuk punya kepribadian yang berbeda, tapi kudu bisa saling bantu membantu juga. Lagi-lagi, biasanya yang mengeluh adalah istri, tapi ada juga kok suami yang keluhkan istrinya egois. Ini perlu saling dikomunikasikan.
Ciri #nikahbahagia 10) Empati dan sensitivitas terhadap pasangan. Perempuan lebih sensitif? Biasanya sih begitu, walaupun nggak selalu demikian. Banyak juga laki-laki sensitif kok. Sensitivitas yang dimaksud di sini adalah sensitif terhadap perasaan pasangan, ngertiin dia, bukan sensitif merasa dilukai. Semakin tepat kita menebak perasaan pasangan & merespon tepat (& sebaliknya dia ke kita), semakin bahagia lho pernikahan kita. 
Ciri #nikahbahagia 11) Kejujuran, kepercayaan satu sama lain, kesetiaan. Semakin baik ketiga poin ini, pernikahan semakin bahagia. Jika tidak percaya terhadap pasangan, kita akan terus khawatir & tak bahagia. Maka kita juga harus jadi orang yang bisa dipercaya. Terus-menerus jujur, bisa dipercaya, dan setia, tak selalu mudah. Maka penting juga jika ada masalah di 3 poin ini pasangan harus bisa menyelesaikan masalah ini sampai tuntas, dan bisa kembali jujur, saling percaya, dan setia lagi. Yang namanya menyelesaikan masalah sampai tuntas, kadang waktunya bulanan / tahunan. Jangan terlalu sedih kalau masalah 'belum kelar-kelar'.  
Ciri #nikahbahagia 12) Kemampuan saling menyesuaikan diri, fleksibilitas, dan toleransi terhadap satu sama lain, makin tinggi makin hepi. Oleh karena itu, pasangan dalam pernikahan yang berbahagia menyesuaikan ekspektasi / harapannya dengan pasangan. Pasangan bahagia nggak termakan dengan ‘kata orang lain, pernikahan yang bahagia itu harusnya / normalnya (standar orang lain). Pasangan yang bahagia tahu bahwa mereka punya definisi kebahagiaan yang bisa aja beda dari pasangan lain. Tentu saja untuk bisa adaptif, fleksibel, dan penuh toleransi, mesti dewasa secara emosional. Jika saat ini Anda perfeksionis & punya standar terlalu tinggi untuk bisa bahagia (sehingga sulit mendapatkannya), bikin janji sama psikolog.